Harga Emas Menguat Didorong Faktor Geopolitik dan Tarif Impor Trump
JAKARTA, investor.id - Harga emas menguat pada perdagangan Selasa (7/1/2025). Hal itu didorong oleh sentimen geopolitik dan prospek tarif impor universal yang sedang dipertimbangkan Presiden terpilih Donald Trump.
Harga emas terlihat naik 4,02 (0,15%) menjadi US$ 2.640,05 pada saat berita ini ditulis.
Analisis Dupoin Indonesia Andy Nugraha menjelaskan secara teknikal, berdasarkan kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average, tren bullish kembali terbentuk pada pasangan XAU/USD. Proyeksi pergerakan harga hari ini menunjukkan potensi kenaikan hingga US$ 2.645.
“Namun, jika harga mengalami pembalikan arah (reversal), target penurunan terdekat berada di US$ 2.622,” ungkap Andy, Selasa (7/1/2025).
Menurutnya, Indikator Moving Average menunjukkan sinyal positif, mengindikasikan bahwa pembeli masih mendominasi pasar emas. Namun, kondisi ini tetap rentan terhadap fluktuasi akibat dinamika berita geopolitik dan rilis data ekonomi mendatang.
Andy mengatakan, sentimen pasar emas dipengaruhi oleh berbagai berita penting. Salah satu penggerak utama adalah laporan dari Washington Post yang menyebutkan bahwa Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan tarif universal untuk barang-barang impor penting.
“Kebijakan ini berpotensi menambah ketidakpastian ekonomi global dan memicu lonjakan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas,” paparnya.
Selain itu, lanjut dia, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menarik perhatian setelah memutuskan untuk bertemu Donald Trump secara independen, menunjukkan perpecahan dalam sikap bersama Uni Eropa. Di sisi lain, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dikabarkan akan mengundurkan diri pekan ini, menambah dinamika politik yang mempengaruhi pasar.
Data Penting AS
Lebih lanjut Andy mengatakan, pasar emas juga tengah menantikan data Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis pada Jumat. Data ini menjadi acuan penting bagi The Fed untuk menentukan arah kebijakan moneternya.
Saat ini, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas rendah (10%) akan adanya penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Januari. “Namun, ketidakpastian tetap tinggi, terutama menjelang pelantikan Donald Trump pada 20 Januari,” jelas dia.
Andy mengatakan, imbal hasil obligasi AS 10 tahun, yang sempat mencapai 4,639% minggu lalu, turun ke level 4,62% pada Senin. Penurunan imbal hasil ini memberikan sedikit dukungan bagi harga emas. Namun, ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed yang tetap bergantung pada data memberikan tekanan pada pergerakan emas jangka pendek.
Secara keseluruhan, Andy memaparkan, emas masih menunjukkan tren bullish yang solid didukung oleh ketidakpastian geopolitik dan rencana kebijakan tarif global Presiden terpilih Donald Trump. Kombinasi faktor fundamental dan teknikal memberikan peluang bagi emas untuk bergerak naik ke level US$ 2.645.
“Namun, para trader juga perlu waspada terhadap potensi koreksi harga hingga US$ 2.622 jika terjadi reversal,” tutup Andy.
Pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi global, terutama rilis Nonfarm Payrolls AS dan kebijakan The Fed, yang kemungkinan besar akan menjadi penggerak utama harga emas dalam waktu dekat.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






