Jumat, 15 Mei 2026

Terlalu Dini Mengaitkan Dampak HMPV dengan Pergerakan Pasar Modal

Penulis : Bambang Ismoyo
14 Jan 2025 | 14:53 WIB
BAGIKAN
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto

JAKARTA, investor.idChief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menepis anggapan penyebaran virus Human Metapneumovirus (HMPV) dapat berdampak terhadap perekonomian seperti halnya Covid-19.

Rully menilai masih terlalu dini mengaitkan dampak HMPV saat ini dengan perekonomian, khususnya pasar modal atau pasar saham. 

Menurutnya, hal ini lantaran penyebaran HMPV efeknya tak sebesar pandemi Covid-19 yang terjadi dalam rentang 2020 hingga 2022 di Indonesia. Dengan demikian, sentimen terhadap pasar untuk saat ini belum terlalu terpengaruh.

ADVERTISEMENT

"Belakangan ini kan sepertinya belum terlalu luas, perkembangan beritanya sih juga tidak seperti pandemi sebelumnya. Saya rasa belum banyak (pengaruh ke pasar)" ungkap Rully saat ditemui di Kantor Mirae Asset Sekuritas, Jakarta, Selasa (14/1/2025).

Rully menuturkan, pergerakan saham-saham emiten di sektor farmasi berdasarkan pantauannya masih cenderung stabil, alias tak mengalami pergerakan yang signifikan.

"Kita lihat dari pergerakan-pergerakan saham ke sana juga (tidak terlalu signifikan)," bebernya.

Rully memprediksi pasar modal Indonesia tahun ini masih akan bergerak positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga diperkirakan dapat mencapai level 8.000. Hal ini lantaran inflasi dan daya beli masih terjaga.

Selain faktor internal, Rully mengingatkan faktor eksternal yang perlu dicermati seperti adanya potensi perang dagang di era pemerintahan Donald Trump jilid ke-2 di AS.

Adapun, Pemerintahan Trump akan menerapkan sejumlah kebijakan seperti berfokus pada proteksionisme, deregulasi, dan pemotongan pajak. 

Kemudian, mempromosikan manufaktur Amerika dan mengurangi defisit perdagangan, pemotongan pajak untuk individu dan bisnis, dan berpotensi menyebabkan inflasi yang lebih tinggi di AS. Menurut Rully, Presiden Trump akan merealisasikan janii-janjinya.

"Akan ada kebijakan yang proteksionis. Market sudah cukup paham bahwa di sepanjang 2017 sampai 2020 Trump merealisasikan janji-janjinya," pungkasnya.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia