Jumat, 15 Mei 2026

Market Gak Karuan, Saham Apa yang Bagus?

Penulis : Ghafur Fadillah
7 Feb 2025 | 06:56 WIB
BAGIKAN
Suasana penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2024 pada Senin (30/12/2024). (Investor Daily/David Gita Roza)
Suasana penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2024 pada Senin (30/12/2024). (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi tajam 2,12% ke level 6.875,54 pada perdagangan Kamis (6/2/2025). Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global yang negatif, termasuk kebijakan tarif dagang Amerika Serikat (AS) terhadap beberapa negara serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi domestik.

Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa kondisi ini dapat menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang tengah mengalami koreksi harga.

Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi Kasmarandana, menjelaskan bahwa volatilitas pasar saham saat ini masih cukup tinggi alias gak karuan, dengan beberapa faktor eksternal yang menjadi perhatian utama.

ADVERTISEMENT

“Kami melihat ada tiga faktor utama yang mempengaruhi pasar, yaitu kebijakan tarif dagang AS terhadap Kanada, Meksiko, dan China; potensi relaksasi kebijakan moneter oleh The Fed dan Bank Indonesia; serta stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Jika ketiga faktor ini berkembang positif, maka pasar berpotensi mengalami rebound,” jelasnya kepada Investor Daily, Kamis (6/2/2025).

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tekanan jual di pasar saham terjadi seiring aksi investor asing yang melepas saham perbankan setelah rilis kinerja keuangan tahun penuh 2024 (FY24) yang kurang memuaskan.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat melemah 7,7%, menjadi pemberat utama IHSG.

Market kapitalisasi sektor keuangan mencakup sekitar 28% dari total IHSG, sehingga koreksi pada saham-saham perbankan memberikan dampak signifikan terhadap indeks,” ujar dia.

Dari sisi ekonomi makro, data menunjukkan bahwa Indonesia mengalami deflasi 0,79% pada Januari 2025 secara month-on-month (mom), yang mencerminkan lemahnya daya beli masyarakat. Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2025 berpotensi melambat.

Rekomendasi Saham

Oktavianus menyarankan investor untuk tetap berinvestasi dengan strategi akumulasi bertahap, terutama pada saham big caps yang memiliki valuasi menarik dan margin of safety lebar.

“Investor dapat menggunakan strategi dollar cost averaging untuk mengurangi risiko volatilitas. Selain itu, momentum technical rebound bisa dimanfaatkan dengan memperhatikan perkembangan kebijakan ekonomi makro,” ujarnya.

Ia merekomendasikan beberapa saham yang dinilai defensif di tengah ketidakpastian pasar, antara lain emiten pada sektor consumer goods seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan target harga pada level Rp 8.375, kemudian saham sektor komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam layak dikoleksi dengan harga rekomendasi Rp 1.900.

Selain itu saham telekomunikasi plat merah seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga patut dicermati di level Rp 3.200.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia