Harga Bitcoin Terkoreksi saat Jumlah Wallet Aktif Anjlok
JAKARTA, investor.id - Pasar kripto turun dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin terkoreksi di tengah jumlah wallet aktif bitcoin anjlok, yang menandakan investor ritel mulai angkat kaki.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Jumat (14/2/2025) pukul 7.10 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 1,61% menjadi US$ 3,19 triliun dalam 24 jam. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) terlihat jatuh 1,3% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin di level US$ 96.453 per koin atau setara Rp 1,57 miliar (kurs, Rp 16.355).
Pelemahan juga terjadi pada Ethereum (ETH) sebesar 2,17% menjadi US$ 2.674 per koin. Sedangkan Binance (BNB) anjlok 4,64% menjadi US$ 669 per koin.
Dikutip dari Cyptonews, jaringan Bitcoin mengalami penurunan signifikan dalam jumlah dompet aktif berisi saldo. Berdasarkan data Santiment per 13 Februari, Bitcoin (BTC) kehilangan sekitar 277.240 dompet aktif dalam tiga minggu terakhir, menyusut menjadi 52,45 juta dompet, level terendah dalam lima bulan.
Baca Juga:
Peluang BitcoinPara analis menilai penurunan ini disebabkan oleh keluarnya pedagang kecil dari pasar, dipicu oleh kekhawatiran akan penurunan harga lebih lanjut di dunia kripto. Sementara sentimen investor ritel melemah, para pemegang besar dikenal sebagai ‘whale’ dan ‘shark’, kemungkinan sedang mengakumulasi Bitcoin di harga lebih rendah.
Jumlah Wallet Aktif
Pada 20 Januari, ketika Bitcoin mencapai rekor tertinggi US$ 109 ribu, jaringan mencatat lebih dari 52,56 juta wallet aktif. Namun, kini investor ritel mulai menjual kepemilikannya karena takut harga semakin anjlok, diperburuk oleh meningkatnya arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di AS yang semakin menekan harga Bitcoin.
Baca Juga:
Pakar Feng Shui Ungkit Harga BitcoinData terbaru dari SoSoValue menunjukkan bahwa pada 12 Februari, ETF Bitcoin mencatat arus keluar bersih lebih dari $251 juta, menandai hari ketiga berturut-turut dengan aliran dana negatif.
Harga Bitcoin, yang sempat bertahan di atas US$ 100 ribuan pada awal tahun, kini berfluktuasi di kisaran US$ 96 ribuan. Seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap berkurangnya likuiditas di Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian terkait kebijakan tarif, investor mulai lebih tertarik pada aset aman dibandingkan aset virtual.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






