Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Melorot Usai Tembus Rekor Tertinggi, Ini Penyebabnya

Penulis : Indah Handayani
20 Feb 2025 | 04:00 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas
Sumber: Antara
ilustrasi harga emas Sumber: Antara

NEW YORK, investor.id - Harga emas melorot, setelah sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada Rabu (19/2/2025). Hal itu disebabkan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian akibat kebijakan tarif terbaru Presiden Donald Trump.

Dikutip dari Reuters, harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 2.928,49 per ons, setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.946,85 per ons. Sedangkan rekor tertinggi harga emas sebelumnya berada di level US$ 2.942,5 yang tercatat pada 11 Februari lalu. Sementara kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 0,4% di level US$ 2.936,10 per ons.

Indeks dolar naik 0,1%, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

ADVERTISEMENT

"Kita berada dalam kondisi ketidakpastian yang tidak biasa. Pemicu utamanya adalah tarif dan perundingan perdagangan yang tengah berlangsung di seluruh dunia," kata analis pasar di Sprott Asset Management Paul Wong.

Ketidakpastian ini muncul setelah Trump mengumumkan niatnya untuk memberlakukan tarif impor mobil hingga 25%, serta tarif serupa terhadap impor semikonduktor dan farmasi. Langkah ini mengikuti kebijakan tarif sebelumnya yang mencakup bea masuk 10% untuk barang impor dari China serta tarif 25% untuk baja dan aluminium pada awal bulan ini.

Sebagai aset lindung nilai, emas sering digunakan untuk mengantisipasi risiko geopolitik dan inflasi. Namun, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Pejabat The Fed masih belum sepenuhnya yakin tentang dampak tarif terhadap inflasi.

Suku Bunga The Fed

Saat ini, pasar memperkirakan kemungkinan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, dengan probabilitas 44% untuk pemangkasan tambahan sebelum akhir tahun, berdasarkan data LSEG.

Setelah pelantikan Trump, pejabat The Fed menyuarakan kekhawatiran bahwa tarif impor dapat mendorong perusahaan menaikkan harga guna mengkompensasi beban tambahan tersebut.

Sedangkan harga logam mulia lainnya, harga perak spot, yang banyak digunakan dalam komponen elektronik, turun 0,4% menjadi US$ 32,74 per ons, mendekati rekor tertinggi dalam satu dekade. Platinum melemah 1,7% menjadi US$ 970,45 per ons. Sementara paladium anjlok 1,6% menjadi US$ 971,47 per ons.

"Meskipun tarif baru dapat melemahkan permintaan industri terhadap perak, dari sisi valuasi, logam ini masih memiliki potensi kenaikan," ujar analis utama Exinity Group Han Tan.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia