Jumat, 15 Mei 2026

TINS, NCKL, ANTM, MBMA, MDKA, INCO, Mana yang Paling Prioritas?

Penulis : Jauhari Mahardhika
23 Feb 2025 | 08:43 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi komoditas timah. (Foto: PT Timah Tbk/TINS)
Ilustrasi komoditas timah. (Foto: PT Timah Tbk/TINS)

JAKARTA, investor.id – Sektor pertambangan logam (nikel, emas, timah, dan lain-lain) diganjar peringkat netral. Lantas, bagaimana dengan saham TINS, NCKL, ANTM, MBMA, MDKA, dan INCO?

Sebagai informasi, sektor pertambangan logam sempat diterpa rumor tak sedap soal kemungkinan kenaikan royalti untuk bijih nikel dari 10% menjadi 15%. Meski kemudian dibantah oleh Kementerian ESDM, rumor tersebut tetap beredar dan berpotensi menjadi hambatan bagi sektor ini.

Berdasarkan catatan BRI Danareksa Sekuritas, pada 2022, pernah mencuat wacana bahwa pemerintah mempertimbangkan pajak progresif untuk nickel pig iron (NPI)/feronikel (FeNi). Namun, akhirnya tidak diterapkan.

ADVERTISEMENT

Walaupun begitu, menurut perhitungan BRI Danareksa Sekuritas terkait proyeksi 2025, kenaikan royalti sebesar 5% dapat menyebabkan penurunan laba bersih sebesar 9% dan 3% untuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada penjualan bijih saprolit.

Kenaikan royalti tersebut juga bisa mengakibatkan penurunan laba bersih sebesar 2% dan 8% untuk PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) pada penjualan bijih limonit.

“ANTM dan MBMA diperkirakan paling terpengaruh oleh kebijakan tersebut, karena penjualan bijih masih menjadi produk dengan margin paling besar. Sementara itu, meski INCO juga terpengaruh, kontribusi bijih terhadap total pendapatan hanya sekitar 6%,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya.

Di sisi lain, muncul kabar soal potensi larangan ekspor bijih nikel dari Filipina, dimana senat telah meloloskan rancangan undang-undang (RUU) untuk diputuskan oleh kongres pada Juni 2025. Jika disetujui, larangan ekspor tersebut akan efektif dalam 5 tahun.

Pada 2024, Indonesia mengimpor sekitar 10 juta ton bijih dari Filipina, sedangkan China mengimpor sekitar 44 juta ton.

Rekomendasi Saham 

Efektivitas larangan ekspor bijih nikel oleh Filipina diprediksi tidak akan sama dengan keberhasilan Indonesia dalam menerapkan kebijakan serupa. Sebab biaya energi di Filipina – negara pengimpor batu bara – terbilang tinggi. Kadar bijihnya juga lebih rendah sekitar 1,5% Ni dibandingkan dengan 1,6-1,7% Ni di Indonesia.

Selain itu, iklim investasi di Filipina saat ini kurang kondusif dibandingkan saat China masuk ke pasar Indonesia, karena pasar nikel kini menghadapi surplus jangka menengah. “Kami menilai implementasi kebijakan tersebut bakal sulit dilakukan,” sebut Timothy.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat netral untuk sektor pertambangan logam karena harga nikel yang stagnan dan kondisi kelebihan pasokan jangka menengah.

Meski begitu, BRI Danareksa Sekuritas menetapkan PT Timah Tbk (TINS), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam sebagai saham pilihan utama karena visibilitas laba yang lebih kuat.

Urutan dalam memilihnya sebagai berikut: TINS > NCKL > ANTM > MBMA > MDKA > INCO. Hal itu berdasarkan bauran valuasi dan potensi pertumbuhan laba pada 2025.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 40 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia