Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Melesat, Cetak Rekor Tertinggi ke-11

Penulis : Indah Handayani
25 Feb 2025 | 04:00 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas, Sumber: Antara
ilustrasi harga emas, Sumber: Antara

NEW YORK, investor.id - Harga emas melesat Senin (24/2/2025), mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all tim high/ATH) kesebelas di sepanjang 2025. Hal itu seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah kekhawatiran terhadap rencana tarif baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dikutip dari Reuters, kenaikan harga emas juga didorong oleh aliran investasi ke exchange traded fund (ETF) emas terbesar di dunia.

Harga emas spot terkerek 0,4% menjadi US$ 2.947,48 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat mencatat rekor tertinggi kesebelas di level US$ 2.956,15 per ons. Sedangkan rekor tertinggi sebelumnya tercatat di level US$ 2.954,7 yang dicetak pada 20 Februari 2025.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,3% di level US$ 2.963,20 per ons.

Indeks dolar AS menyentuh level terendah sejak 10 Desember, menjadikan emas lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

“Investor percaya bahwa dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, harga emas akan terus naik. Arah pergerakan emas masih cenderung naik selama ketidakpastian global tetap tinggi,” ujar analis senior di Kitco Metals Jim Wyckoff.

Tarif Baru Trump

Pekan lalu, Trump memperingatkan akan adanya tarif baru yang diperkirakan dapat memicu inflasi AS dan perang dagang, sehingga mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas.

SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, melaporkan kepemilikan emasnya naik menjadi 904,38 metrik ton pada Jumat (21/2/2025), level tertinggi sejak Agustus 2023.

Harga emas yang bertahan di atas US$ 2.950 per ons semakin menarik perhatian investor terhadap potensi kenaikan ke level psikologis US$ 3.000. Sepanjang 2025, harga emas sudah naik lebih dari 12%.

Kini, investor menantikan laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Jumat mendatang, yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Berdasarkan survei Reuters, mayoritas ekonom memperkirakan The Fed baru akan memangkas suku bunga pada kuartal berikutnya, bukan pada Maret seperti ekspektasi sebelumnya.

Selain itu, pasar juga akan mencermati pidato dari setidaknya sembilan pejabat The Fed pekan ini, yang diperkirakan akan memberikan sinyal kehati-hatian terkait kebijakan suku bunga ke depan.


 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia