BBRI BBCA Ada Apa?
JAKARTA, investor.id - Saham tiga bank besar memerah pada perdagangan 25 Februari 2025 kemarin. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI minus 3,06% ke Rp 3.800, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 3,08% ke Rp 4.870, dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA turun 1,12% ke Rp 8.825.
Saham BBRI bahkan menyentuh level terendahnya dalam 3 tahun. Dan BBCA kena level paling bawahnya untuk 6 bulan.
Hanya saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) alias BNI yang ditutup menghijau plus 0,71% ke Rp 4.230.
Saham BBRI, BMRI, dan BBCA pun menjadi tiga saham yang paling banyak dilepas asing. BBRI mengalami net sell Rp 663,11 miliar, BMRI net sell asing Rp 328,35 miliar, dan BBCA net sell Rp 216,26 miliar.
Dalam satu bulan terakhir saham BBRI turun 7,77%, BMRI jatuh 20,16%, BBCA melemah 3,55%.
Namun saat saham BBCA sedang mengalami penurunan, Direktur Utama BBCA Jahja Setiaatmadja membeli 337 ribu saham BBCA di Rp 8.900/saham pada 25 Februari 2025. Nilai transaksinya Rp 2,9 miliar.
Selain Jahja, Direktur BBCA Santoso juga menyerok 20 ribu saham BBCA di Rp 8.900/saham pada 25 Februari 2025. Nilai transaksinya Rp 178 juta.
Isu Global dan Danantara
Saham BBRI, BMRI, dan BBCA tertekan saat indeks harga saham gabungan (IHSG) pun anjlok 2,41% ke level 6.587,08 kemarin. 490 saham ditutup memerah, 119 saham menghijau, dan 173 saham stagnan.
Phintraco Sekuritas dalam ulasannya kemarin menyebut IHSG ditutup melemah 2,4%, breaklow level psikologis 6.600.
Mayoritas indeks regional melemah signifikan (mayoritas >1%) di sore (25/2/2025). Indeks Nikkei 225 (-1.39%), HSI (-1.32%), dan SSEC (-0.8%). Hal ini mengindikasikan terdapat sentimen global yang menjadi sentimen negatif untuk pasar modal secara umum.
Presiden AS, Donald Trump mengkonfirmasi untuk melanjutkan rencana implementasi tarif untuk Kanada dan Meksiko di awal Maret. Keduanya selama ini dinilai sebagai US closed trading partners. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa Trump tidak akan menunda penerapan reciprocal tariff. Pasar berspekulasi tarif ini diumumkan pasca FOMC Maret.
Dari dalam negeri, isu terkait pendirian Danantara masih direspons beragam oleh pelaku pasar secara umum. Pasar masih dipengaruhi oleh isu-isu negatif yang berkembang mengenai pengelolaan dan kinerja sovereign wealth fund (SWF) di beberapa negara tetangga.
“Tampaknya diperlukan sosialisasi yang lebih masif baik dari pemerintah maupun Badan Pengelola Investasi (BPI) kepada pelaku pasar untuk meredam kekhawatiran-kekhawatiran tersebut,” jelas Phintraco.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






