Jumat, 15 Mei 2026

AADI Punya Target Harga Baru, tapi Turun

Penulis : Jauhari Mahardhika
16 Mar 2025 | 13:02 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi kegiatan usaha PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). (Foto: Perseroan)
Ilustrasi kegiatan usaha PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). (Foto: Perseroan)

JAKARTA, investor.id – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menutup tahun 2024 dengan kinerja yang sedikit lebih baik dari perkiraan. Adaro Andalan membukukan pendapatan sebesar US$ 5,3 miliar atau turun 10,1% yoy dan laba bersih US$ 1,2 miliar atau naik 5,9% yoy.

“Hasil tersebut ditopang oleh penurunan royalti dan keuntungan US$ 322 juta dari pelepasan investasi,” tulis analis KB Valbury Sekuritas, Laurencia Hiemas dalam risetnya.

Adapun volume penjualan batu bara Adaro Andalan sepanjang 2024 mencapai rekor 68,1 Mt atau meningkat 7,4% yoy, meski terjadi penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 16,2%. PT Adaro Indonesia (AI) berkontribusi sebesar 84,2% terhadap total volume penjualan.

ADVERTISEMENT

Tahun ini, proyeksi volume penjualan emiten berkode saham AADI tersebut direvisi turun menjadi 65 Mt atau turun 4,5% yoy, yang berdampak pada pemangkasan estimasi pendapatan dan EBITDA sebesar 25-45%.

“Walaupun demikian, margin tetap solid dengan margin EBITDA diperkirakan meningkat menjadi 29-30%,” ungkap Laurencia.

Sedangkan belanja modal (capital expenditure/capex) AADI bakal moderat sebesar US$ 300 juta. Rasio pembayaran dividen dipertahankan mencapai 50%, disokong oleh arus kas bebas yang kuat dan likuiditas sehat.

Dividen dan Target Harga Saham 

KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham Adaro Andalan Indonesia (AADI). Namun, target harga saham AADI direvisi turun menjadi Rp 10.500 dari sebelumnya Rp 14.175.

Dengan menerapkan P/E multiple sebesar 5 kali, target harga baru saham AADI mencerminkan asumsi yang lebih konservatif di tengah volatilitas harga batu bara.

Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa setiap perubahan 10% pada harga batu bara dapat menggeser valuasi dalam kisaran Rp 8.800-12.100 per saham. “Meskipun ada kehati-hatian dalam jangka pendek, AADI tetap menjadi pilihan menarik bagi investor dividen,” sebut Laurencia.

Sementara itu, Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Hendriko Gani mengungkapkan bahwa Adaro Andalan (AADI) kemungkinan tidak akan membagikan dividen atas laba bersih tahun buku 2024. Hal itu mencuat dalam diskusi antara AADI dan Stockbit Sekuritas.

“Kemungkinan tersebut didasari sejumlah pertimbangan, seperti AADI yang baru IPO pada Desember 2024, level kas saat ini, dan kebutuhan capex mendatang,” ungkap Hendriko dalam ulasannya, baru-baru ini.

Meski demikian, menurut dia, keputusan soal pembagian dividen tahun buku 2024 pastinya hanya akan diketahui pada RUPST mendatang.

Secara historis, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) – entitas yang menaungi AADI sebelum spin off – membagikan dividen final pada bulan Mei, dengan dividen interim pada Desember. “Kami memperkirakan AADI mulai membagikan dividen secara interim untuk tahun buku 2025,” jelas Hendriko.

Di dalam prospektus, manajemen AADI menyebutkan bahwa perseroan mulai tahun buku 2025 merencanakan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) hingga sebesar 45% dari laba bersih konsolidasi. Manajemen AADI tidak menyebutkan besaran DPR untuk tahun buku 2024.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia