Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Melesat ke Rekor Tertinggi, Proyeksi Kian Naik

Penulis : Indah Handayani
19 Mar 2025 | 03:57 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas. (Foto: Chalinee Thirasupa / Bloomberg / Getty Images)
ilustrasi harga emas. (Foto: Chalinee Thirasupa / Bloomberg / Getty Images)

JAKARTA, investor.id - Harga emas melesat ke rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada Selasa (18/3/2025). Hal itu didorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan rencana kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dikutip dari CNBC internasional, kenaikan tersebut membuat para analis dan bank-bank meningkatkan proyeksi harga emas di tahun ini.

Harga emas spot melonjak 1,12% menjadi US$ 3.034,6, setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi di level US$ 3.037,7 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik 1,3% menjadi US$ 3.043,40.

ADVERTISEMENT

Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank Ole Hansen menyebutkan, kombinasi faktor yang mendukung kenaikan harga emas sedang terjadi. "Fokus terbaru adalah ketegangan di Timur Tengah yang semakin memperparah kekhawatiran ekonomi terhadap arah kebijakan AS," ujarnya.

Sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakstabilan geopolitik dan ekonomi, harga emas telah melonjak lebih dari 14% sepanjang tahun ini dan mencetak rekor tertinggi sebanyak 14 kali sejak Januari.

Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah serangan udara Israel ke Gaza yang menewaskan 326 orang, menurut otoritas kesehatan Palestina. Serangan ini mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua bulan dengan Hamas.

Kebijakan Ekonomi AS

Sementara itu, kebijakan ekonomi AS juga turut menjadi perhatian pasar. Trump berencana menerapkan serangkaian tarif baru, termasuk bea masuk tetap sebesar 25% untuk baja dan aluminium yang mulai berlaku sejak Februari lalu. Selain itu, ia berencana menerapkan tarif balasan dan sektoral yang dijadwalkan berlaku pada 2 April.

Pelaku pasar juga mencermati pertemuan bank sentral pekan ini, termasuk kebijakan The Fed. Hingga saat ini, The Fed masih mempertahankan suku bunga stabil setelah melakukan tiga kali pemangkasan pada 2024. Namun, pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga akan kembali dilakukan pada Juni.

"Jika The Fed memberikan sinyal dovish di tengah kebijakan tarif yang kacau, harga emas bisa naik lebih tinggi lagi," kata analis komoditas di WisdomTree Nitesh Shah.

Dalam proyeksi terbaru, ANZ menaikkan perkiraan harga emas dalam tiga bulan ke depan menjadi US$ 3.100 per ons dan dalam enam bulan ke depan menjadi US$ 3.200 per ons. UBS juga menargetkan harga emas mencapai US$ 3.200 pada tahun ini.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia