Jumat, 15 Mei 2026

BUMI, INDY, AADI di Tengah Isu Perubahan Royalti

Penulis : Jauhari Mahardhika
19 Mar 2025 | 14:03 WIB
BAGIKAN
Batu bara. (Foto: Bumi Resources/BUMI).
Batu bara. (Foto: Bumi Resources/BUMI).

JAKARTA, investor.id – Stockbit Sekuritas menghitung potensi perubahan laba bersih dan valuasi P/E pada sejumlah emiten batu bara, seiring dengan konsultasi publik mengenai perubahan royalti pertambangan mineral dan batu bara (minerba) yang diajukan oleh Kementerian ESDM.

Ada 3 asumsi utama dalam perhitungan ini. Pertama, harga rata-rata batu bara Newcastle di level US$ 110/ton pada 2025.

Kedua, dengan harga batu bara Newcastle, skema usulan perubahan royalti akan menurunkan tarif royalti dari 28% ke 18% untuk produsen dengan kontrak IUPK, seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

ADVERTISEMENT

“Sedangkan tarif royalti untuk produsen dengan kontrak IUP, seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), akan naik dari 10,5% ke 11,5%,” tulis Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Hendriko Gani dalam ulasannya, yang dikutip pada Rabu (19/3/2025).

Asumsi ketiga adalah perubahan tarif royalti berlaku retrospektif sejak awal 2025 (dampak penuh untuk setahun).

Dengan 3 asumsi utama tersebut, BUMI berpotensi menjadi emiten batu bara yang paling diuntungkan dengan estimasi laba bersih 2025 melesat 142% (yoy). Diikuti oleh INDY dengan lonjakan 126% dan AADI naik 22%. Sementara itu, PTBA berpotensi mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 7,1% (yoy).

Perubahan estimasi laba bersih tersebut akan mengubah valuasi P/E 2025 masing-masing emiten menjadi sebagai berikut:

- BUMI: 18,7 kali menjadi 7,7 kali.

- INDY: 11,2 kali menjadi 4,9 kali.

- AADI: 3,7 kali menjadi 3 kali.

- PTBA: 6 kali menjadi 6,4 kali.

BUMI, INDY, AADI di Tengah Isu Perubahan Royalti

Adapun PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tidak terdampak perubahan royalti batu bara.

Rekomendasi dan Target Harga Saham 

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba emiten batu bara yang dirisetnya jatuh sebesar 25-33% pada 2025, seiring proyeksi penurunan harga batu bara.

Lantas, bagaimana prospek saham emiten batu bara, seperti PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA)?

Di antara para penambang batu bara tersebut, AADI malah berpotensi menikmati kenaikan laba, jika royaltinya dipotong. “Kenaikan EPS sebesar 24-27%, jika tarif royalti diturunkan 8-9 ppt. Tapi, itu masih menunggu persetujuan,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta dalam risetnya.

Menurut Erindra, memasuki tahun 2025, pihaknya terus melihat skenario normalisasi harga batu bara dan memperkirakan rata-rata harga batu bara Newcastle sebesar US$ 110/ton, dibandingkan tahun 2024 yang mencapai US$ 135,7/ton. Hal itu didorong oleh pertumbuhan pasokan dari Indonesia.

Dengan berbagai faktor yang ada, BRI Danareksa Sekuritas menurunkan peringkat sektor batu bara menjadi netral. Hal itu seiring dengan pandangan mengenai risiko penurunan harga akibat peningkatan produksi China dan tingginya tingkat persediaan.

“Meski laba menurun, saham batu bara tetap menawarkan dividend yield yang menarik bagi investor berkisar 8-14%,” sebut Erindra.

Adapun urutan dalam memilih saham batu bara sebagai berikut: UNTR > AADI > ADRO > ITMG > PTBA.

Rekomendasi untuk saham-saham tersebut adalah beli. Target harga saham UNTR sebesar Rp 31.000, AADI Rp 9.850, ADRO Rp 2.630, ITMG Rp 27.300, dan PTBA Rp 3.100.

“Kami menyukai UNTR karena menawarkan profil laba yang lebih defensif berkat bisnis kontraktor pertambangan, dengan dividend yield yang menarik sebesar 10,8%,” pungkasnya.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia