Cisadane Sawit (CSRA) Cetak Rekor Penjualan Tertinggi
JAKARTA, investor.id –PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) mencetak rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah dengan mengantongi untung hingga Rp 213,36 miliar, melesat 46% dibandingkan Rp152,06 miliar pada 2023. Kinerja impresif ini diraih berkat strategi perseroan dalam meningkatkan kapasitas produksi.
Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis Cisadane Sawit Raya Seman Sendjaja menyampaikan bahwa 2024 menjadi momentum penting bagi perusahaan dalam mempercepat pertumbuhan dan penguatan fundamental bisnis.
"Kami terus fokus pada peningkatan kapasitas produksi dan pengembangan fasilitas, termasuk pembangunan pabrik kelapa sawit (PMKS) ketiga di Banyuasin yang akan mulai beroperasi pada semester kedua 2025. PMKS ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan penjualan dan efisiensi operasional," jelasnya dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (23/3/2025).
CSRA membukukan pendapatan sebesar Rp 1,07 triliun, naik 21,8% dibandingkan 2023 yang sebesar Rp 875,51 miliar. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan volume penjualan minyak sawit mentah (CPO) serta kenaikan harga jual rata-rata.
Laba kotor mencapai Rp483,86 miliar, tumbuh 21,1% dari Rp399,58 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas perusahaan dalam menjaga efisiensi biaya produksi. Sementara itu, laba bersih melonjak 46,0% menjadi Rp213,36 miliar, dibandingkan Rp152,06 miliar pada 2023. Marjin laba bersih pun meningkat menjadi 20,1% dari 16,7% tahun sebelumnya, terutama berkat kontrol biaya yang ketat.
Dari sisi neraca keuangan, total aset CSRA mencapai Rp2,25 triliun, naik 22,2% dari Rp1,84 triliun pada akhir 2023. Liabilitas perusahaan meningkat menjadi Rp952,72 miliar dari Rp727,69 miliar, sejalan dengan strategi ekspansi yang dilakukan. Ekuitas perusahaan juga tumbuh menjadi Rp1,29 triliun dibandingkan Rp1,12 triliun pada akhir 2023.
Struktur modal perusahaan tetap terjaga dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas (net gearing ratio) di level 0,73x, sedikit lebih tinggi dari 0,65x pada 2023. Seman menegaskan bahwa struktur modal yang sehat ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menarik investor dan mengoptimalkan biaya pendanaan.
Prospek Industri
ndustri kelapa sawit Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan peluang pada 2025. Harga CPO diproyeksikan naik lebih dari 7,2% menjadi MYR 4.500 per ton, sementara produksi nasional diperkirakan meningkat 3,9% setelah berakhirnya fenomena El Nino pada Mei 2024.
Menanggapi peluang ini, CSRA telah menyiapkan strategi ekspansi dan investasi, termasuk alokasi belanja modal (Capex) sebesar Rp100 miliar pada 2025. Sebanyak 50% dari anggaran tersebut akan digunakan untuk penyelesaian PMKS di Banyuasin, sementara sisanya dialokasikan untuk pembayaran ganti rugi tanam tumbuh (GRTT) dan pengembangan lahan baru di Sumatera Selatan.
"Kami juga terus meninjau peluang akuisisi lahan baru, terutama di sekitar wilayah perkebunan yang sudah ada agar operasional dapat terintegrasi dengan lebih efisien," ujar Seman.
Selain ekspansi bisnis, CSRA juga memperkuat inisiatif keberlanjutan dengan fokus pada aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kearifan lokal (HEEL). Pada 2024, perusahaan telah memperoleh sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk kebun PT SSG dan PT ABI di Sumatera Selatan serta meraih penghargaan kategori Silver dalam Transparansi Emisi dan Penurunan Emisi Korporasi 2024.
"Pertumbuhan kami didukung oleh strategi operasional yang matang, penguatan struktur keuangan, serta komitmen terhadap keberlanjutan. Dengan tata kelola yang tepat, kami optimistis CSRA akan terus mencatatkan kinerja positif dan mencapai pertumbuhan berkelanjutan," pungkas Seman.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler




