Jumat, 15 Mei 2026

Kabar Laba BTN (BBTN) Setelah Terempas

Penulis : Prisma Ardianto
30 Mar 2025 | 10:13 WIB
BAGIKAN
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu bersiap mengikuti rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/3/2025). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu bersiap mengikuti rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/3/2025). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
  1. CoC masih terkendali

Biaya kredit atau credit cost (CoC) dari BBTN turun pada Februari 2025 menjadi 0,93% (vs Jan 2025: 1,09). Sejalan dengan nilai beban provisi yang juga menyusut menjadi Rp 277,73 triliun (-14,68% MoM, +26,99 YoY).

Selama 2M25, CoC terjaga dengan kecenderungan meningkat di posisi 1,01% (vs 2M24: 0,79%). Ini juga seiring dengan beban provisi 2M25 tumbuh tinggi 35,46% YoY menjadi Rp 603,28 miliar.

Rasio biaya kredit masih dalam kisaran guidance manajemen yang sebesar 1% - 1,1% untuk FY25. Manajemen BBTN meningkatkan asumsi CoC dari realisasi FY24 yang sebesar 0,58%. Penanda tantangan menjaga kualitas aset masih akan dialami BBTN.

ADVERTISEMENT
  1. Likuiditas terjaga, tapi masih ketat

BBTN mencatat total kredit dan pembiayaan mencapai Rp 359,35 triliun pada Februari 2025. Angka ini tumbuh melambat +5,84% YoY (vs Jan 2025: 7,11% YoY). Perlambatan terjadi di segmen kredit konvensional, sementara pembiayaan syariah masih tumbuh tinggi.

Penyaluran total kredit dan pembiayaan nyatanya masih jadi tantangan BBTN di awal tahun. Padahal, BBTN menargetkan total kredit dan pembiayaan mencapai Rp 384,24 triliun atau tumbuh +7,34% YoY untuk FY25 (vs FY24: 7,27% YoY).

Target kredit ini yang selanjutnya bisa turut mendongkrak target total aset BBTN menembus Rp 500 triliun pada 2025. Per Februari 2025, aset BTN mencapai Rp 464,71 triliun.

Sebagai bekal mendorong pertumbuhan kredit ke depan, dana pihak ketiga (DPK) BBTN didorong tumbuh 8,99% YoY. Tren DPK itu di atas rata-rata target pertumbuhan FY25 perseroan yang sebesar 8,51% YoY.

Dengan DPK yang bergerak lebih cepat dari kredit, loan to deposit ratio (LDR) dari BBTN berada di level 94,06% pada Februari 2025 (vs Jan 2025: 95,33%). Merefleksikan sedikit kelonggaran, meskipun likuiditas masih relatif ketat.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia