Siasat Bukit Asam (PTBA) Maksimalkan Peluang Ekspor
JAKARTA, investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memanfaatkan peluang tingginya ongkos angkut batu bara di pasar global dengan menawarkan keunggulan dari sisi ongkos (cost leadership). Siasat ini dilakukan agar perseroan tetap dapat memaksimalkan ekspor di tengah kemelut perang dagang.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail tak menepis bahwa perseroan cukup khawatir dengan perang dagang yang menyeret negara-negara destinasi ekspor batu bara perseroan seperti China, India, Korea, dan Vietnam. Sebab, jika kondisi tersebut terus berlangsung berpotensi membuat ekonomi global melambat dan akhirnya berpengaruh kepada permintaan batu bara.
Terlebih lagi, kata dia, China memiliki kemampuan untuk memproduksi batu bara guna memenuhi kebutuhan domestiknya dengan produksi maksimal mencapai 5 miliar ton. Begitu pula dengan India, sehingga hal tersebut dapat menekan impor batu bara semakin ke bawah.
Namun demikian, keluarnya AS dari Paris Agreement yang kemudian menghidupkan kembali batu bara dalam negerinya dan tingginya ongkos angkut batu bara dari Utara sampai Selatan China menjadi celah bagi PTBA untuk tetap bisa memaksimalkan ekspor batu bara ke pasar global.
“Di sinilah, peran kami melakukan cost leadership apabila kondisi harga batu bara terus menurun,” ujar Arsal dalam konferensi pers di Hotel Westin Jakarta, Senin (14/4/2025).
Baca Juga:
Napas Panjang Emiten MIND IDJika harga batu bara berfluktuasi di bawah US$ 100 per ton atau bahkan di bawah US$ 90 per ton, Arsal menyatakan, PTBA sudah menyiapkan langkah-langkah penting agar batu bara perseroan dapat diekspor untuk industri-industri di India, China, Korea, dan Vietnam.
“Kami sudah menyiapkan langkah-langkah efisiensi semaksimal mungkin untuk melakukan cost leadership. Kemudian, hal-hal apalagi yang harus kami lakukan. Intinya, sebagai perusahaan kami menjaga supaya kinerja PTBA masih bisa berlanjut,” tutur dia.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Usaha PTBA, Rafli Yandra menambahkan, tahun ini perseroan akan mengarahkan penjualan ekspor batu bara ke negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan seperti Kamboja dan Bangladesh. Ini paralel dengan potensi permintaan dan adanya pembangunan power plant di kawasan tersebut yang membuat permintaan ekspor meningkat.
"Jadi di tahun 2024, kami melihat permintaan ekspor khususnya untuk Asia Tenggara dan Asia Selatan masih tinggi sehingga potensi ekspor kami arahkan sana," ungkap Rafli.
Sampai kuartal I-2025, anggota Holding BUMN Industri Pertambangan atau MIND ID tersebut mengklaim, kinerja ekspor batu bara masih tetap terjaga dengan ekspor paling banyak ke negara-negara seperti China, India, Vietnam, dan Bangladesh melalui pihak ketiga.
Baca Juga:
Menanti Dividen Emiten MIND IDSepanjang tahun buku 2024, emiten berkode saham PTBA tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp 42,76 triliun, tumbuh 11% secara tahunan (year on year/yoy) dan laba bersih sebesar Rp 5,10 triliun, dan EBITDA Rp 8,30 triliun. Total aset perusahaan per 31 Desember 2024 sebesar Rp 41,79 triliun, tumbuh 8% secara tahunan.
Kenaikan pendapatan terutama ditopang oleh penjualan ekspor yang mencapai 20,26 juta ton atau naik 30% secara tahunan. Penjualan domestik juga meningkat 6% secara tahunan menjadi 22,64 juta ton. Total penjualan pada 2024 mencapai 42,89 juta ton atau tumbuh 16% secara tahunan.
Penjualan batu bara PTBA didominasi oleh pasar domestik. Namun secara bauran, porsi ekspor semakin meningkat. Saat ini, porsi pasar domestik sebesar 53 persen dan ekspor 47%.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Jadi Destinasi Favorit Libur Paskah, 30 Ribu Pengunjung Padati Kawasan Ancol
Kawasan Ancol jadi destinasi favorit masyarakat untuk mengisi libur panjang akhir pekan. Diperkirakan ada 30 ribu pengunjung datang hari iniWOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen
Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang
Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data
Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah PutihTag Terpopuler
Terpopuler






