Sabtu, 4 April 2026

Siasat Bukit Asam (PTBA) Maksimalkan Peluang Ekspor

Penulis : Muawwan Daelami
14 Apr 2025 | 16:39 WIB
BAGIKAN
Konferensi Pers PTBA dalam rangka pengumuman "Kinerja Keuangan dan Operasional Perseroan Tahun Buku 2024 di Hotel Westin, Jakarta. Foto/Investor Daily
Konferensi Pers PTBA dalam rangka pengumuman "Kinerja Keuangan dan Operasional Perseroan Tahun Buku 2024 di Hotel Westin, Jakarta. Foto/Investor Daily

JAKARTA, investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memanfaatkan peluang tingginya ongkos angkut batu bara di pasar global dengan menawarkan keunggulan dari sisi ongkos (cost leadership). Siasat ini dilakukan agar perseroan tetap dapat memaksimalkan ekspor di tengah kemelut perang dagang.

Direktur Utama PTBA Arsal Ismail tak menepis bahwa perseroan cukup khawatir dengan perang dagang yang menyeret negara-negara destinasi ekspor batu bara perseroan seperti China, India, Korea, dan Vietnam. Sebab, jika kondisi tersebut terus berlangsung berpotensi membuat ekonomi global melambat dan akhirnya berpengaruh kepada permintaan batu bara.

Terlebih lagi, kata dia, China memiliki kemampuan untuk memproduksi batu bara guna memenuhi kebutuhan domestiknya dengan produksi maksimal mencapai 5 miliar ton. Begitu pula dengan India, sehingga hal tersebut dapat menekan impor batu bara semakin ke bawah.

Advertisement

Namun demikian, keluarnya AS dari Paris Agreement yang kemudian menghidupkan kembali batu bara dalam negerinya dan tingginya ongkos angkut batu bara dari Utara sampai Selatan China menjadi celah bagi PTBA untuk tetap bisa memaksimalkan ekspor batu bara ke pasar global.

“Di sinilah, peran kami melakukan cost leadership apabila kondisi harga batu bara terus menurun,” ujar Arsal dalam konferensi pers di Hotel Westin Jakarta, Senin (14/4/2025).

Jika harga batu bara berfluktuasi di bawah US$ 100 per ton atau bahkan di bawah US$ 90 per ton, Arsal menyatakan, PTBA sudah menyiapkan langkah-langkah penting agar batu bara perseroan dapat diekspor untuk industri-industri di India, China, Korea, dan Vietnam.

“Kami sudah menyiapkan langkah-langkah efisiensi semaksimal mungkin untuk melakukan cost leadership. Kemudian, hal-hal apalagi yang harus kami lakukan. Intinya, sebagai perusahaan kami menjaga supaya kinerja PTBA masih bisa berlanjut,” tutur dia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Usaha PTBA, Rafli Yandra menambahkan, tahun ini perseroan akan mengarahkan penjualan ekspor batu bara ke negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan seperti Kamboja dan Bangladesh. Ini paralel dengan potensi permintaan dan adanya pembangunan power plant di kawasan tersebut yang membuat permintaan ekspor meningkat.

"Jadi di tahun 2024, kami melihat permintaan ekspor khususnya untuk Asia Tenggara dan Asia Selatan masih tinggi sehingga potensi ekspor kami arahkan sana," ungkap Rafli.

Sampai kuartal I-2025, anggota Holding BUMN Industri Pertambangan atau MIND ID tersebut mengklaim, kinerja ekspor batu bara masih tetap terjaga dengan ekspor paling banyak ke negara-negara seperti China, India, Vietnam, dan Bangladesh melalui pihak ketiga.

Sepanjang tahun buku 2024, emiten berkode saham PTBA tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp 42,76 triliun, tumbuh 11% secara tahunan (year on year/yoy) dan laba bersih sebesar Rp 5,10 triliun, dan EBITDA Rp 8,30 triliun. Total aset perusahaan per 31 Desember 2024 sebesar Rp 41,79 triliun, tumbuh 8% secara tahunan.

Kenaikan pendapatan terutama ditopang oleh penjualan ekspor yang mencapai 20,26 juta ton atau naik 30% secara tahunan. Penjualan domestik juga meningkat 6% secara tahunan menjadi 22,64 juta ton. Total penjualan pada 2024 mencapai 42,89 juta ton atau tumbuh 16% secara tahunan.

Penjualan batu bara PTBA didominasi oleh pasar domestik. Namun secara bauran, porsi ekspor semakin meningkat. Saat ini, porsi pasar domestik sebesar 53 persen dan ekspor 47%.

Editor: Muawwan Daelami

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


InveStory 9 menit yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 18 menit yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 55 menit yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
Business 1 jam yang lalu

Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik

Penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM di tengah dinamika geopolitik global.
International 2 jam yang lalu

WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran

WHO kecam serangan AS & Israel ke fasilitas kesehatan Iran. 4 juta orang mengungsi, risiko wabah penyakit kian mengancam Timur Tengah.
Business 2 jam yang lalu

Green SM Dapat Dukungan Pembiayaan BCA Rp600 M

Fasilitas pembiayaan dari BCA ditujukan memperkuat kesiapan operasional serta menjaga keberlanjutan layanan Green SM di sejumlah kota.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia