Emiten Buka-bukaan Mau Akuisisi Tambang
Sementara itu dari sisi penjualan alat berat, Direktur UNTR Widjaja Kartika menjelaskan, minat terhadap alat berat masih tinggi, khususnya dari sektor tambang. Namun, ia mengakui bahwa tren penurunan harga batu bara menyebabkan sejumlah kontraktor melakukan efisiensi operasional. “Kami masih wait and see atas dampak pergerakan harga komoditas. Namun sejauh ini penjualan Komatsu tetap positif,” ungkapnya.
UNTR juga menghadapi persaingan ketat dari merek alat berat asal China yang semakin ekspansif. “Kami yakin Komatsu tetap kompetitif karena fokus pada peningkatan kualitas dan digitalisasi pemasaran,” tambah Direktur Lody Irwanto Elias.
Pada 2024, pangsa pasar Komatsu bertahan di level 26%.
Untuk diketahui, UNTR membukukan penjualan Komatsu sebesar 1.345 unit sepanjang kuartal I-2025, tumbuh 23% yoy. Perseroan menargetkan penjualan 4.600 unit sepanjang 2025.
Terkait kebijakan royalti baru, Direktur Utama UNTR Frans Kesuma menyatakan perubahan tarif memberikan dampak bervariasi. Untuk batu bara, tarif maksimal royalti diturunkan dari 28% menjadi 13,5%. Sementara untuk emas, naik dari 10% menjadi 16% karena lonjakan harga global.
“Kami tetap berkomitmen menjadi produsen dengan biaya terendah. Perubahan royalti sudah kami perhitungkan dalam proyeksi 2025,” ujar Frans.
Frans memastikan efisiensi tetap menjadi strategi utama meskipun terjadi penyesuaian beban royalti. “Royalti adalah kewajiban atas izin pengelolaan sumber daya. Kami akan tetap mengelola biaya operasional seefisien mungkin,” tegasnya.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






