Harga Minyak Anjlok, Catat Penurunan Bulanan Terbesar Sejak 2021
NEW YORK, investor.id – Harga minyak dunia ditutup anjlok pada Rabu (30/4/2025) dan mencatat penurunan bulanan paling tajam dalam hampir 3,5 tahun. Tekanan datang dari sinyal Arab Saudi yang membuka peluang meningkatkan produksi demi memperluas pangsa pasar, di tengah kekhawatiran menurunnya permintaan akibat perang dagang global.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent jatuh US$ 1,13 (1,76%) menjadi US$ 63,12 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) anjlok US$ 2,21 (3,66%) ke level US$ 58,21 per barel, penutupan terendah sejak Maret 2021.
Secara bulanan, Brent merosot 15% dan WTI amblas 18%. Ini menjadi penurunan persentase bulanan terbesar sejak November 2021.
Penurunan tajam ini terjadi setelah Arab Saudi, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, mengisyaratkan tidak akan lagi menahan produksi demi menjaga harga dan siap menghadapi periode harga rendah yang berkepanjangan.
“Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kita mungkin sedang menuju perang produksi baru. Apakah Arab Saudi sedang mengirim sinyal bahwa mereka ingin merebut kembali pangsa pasar? Kita tunggu saja,” ujar analis senior Price Futures Group Phil Flynn.
Awal bulan ini, Arab Saudi mendorong peningkatan produksi OPEC+ yang lebih besar dari rencana semula untuk Mei. Sumber Reuters menyebutkan bahwa sejumlah anggota OPEC+ akan kembali mengusulkan kenaikan produksi pada pertemuan 5 Mei mendatang.
Sementara itu, perang dagang yang dipicu oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump turut memperburuk prospek permintaan minyak. Trump mengumumkan tarif untuk seluruh impor pada 2 April, yang langsung dibalas China dengan bea masuk serupa. Ketegangan antara dua konsumen minyak terbesar dunia ini menekan aktivitas perdagangan dan perjalanan.
Dampak Perang Dagang
Analis strategi investasi di Raymond James Pavel Molchanov mengatakan, perang dagang secara langsung memangkas permintaan minyak dan menghambat mobilitas konsumen. “Dikombinasikan dengan pelonggaran pemangkasan produksi OPEC, risiko kelebihan pasokan pun meningkat,” katanya.
Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis Rabu juga menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam mengalami kontraksi pada kuartal I-2025, dipicu lonjakan impor barang menjelang kenaikan tarif.
Survei Reuters memperkirakan tarif Trump berpotensi mendorong ekonomi global menuju resesi tahun ini. Indeks kepercayaan konsumen AS bahkan jatuh ke level terendah dalam hampir lima tahun.
Meski demikian, penurunan harga minyak sedikit tertahan oleh data stok minyak AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah turun 2,7 juta barel menjadi 440,4 juta barel pada pekan yang berakhir 25 April. Penurunan ini mengejutkan karena sebelumnya analis memperkirakan kenaikan 429 ribu barel.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






