Jumat, 15 Mei 2026

Harga Batu Bara Stabil di Tengah Peningkatan Aktivitas Manufaktur China

Penulis : Indah Handayani
16 Mei 2025 | 07:30 WIB
BAGIKAN
ilustrasi hargga batu bara. (FOTO: AP Photo/Phelan M. Ebenhack)
ilustrasi hargga batu bara. (FOTO: AP Photo/Phelan M. Ebenhack)

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara mayoritas stabil pada Kamis (15/5/2025). Hal itu terjadi di tengah peningkatan aktivitas manufaktur di China, terimbas kesepakatan dagang sementara dengan Amerika Serikat (AS).

Harga batu bara Newcastle untuk Mei 2025 stabil di US$ 99 per ton. Hal serupa terjadi pada Juni 2025 yang bertahan di US$ 101,9 per ton. Sementara itu, Juli 2025 malah naik US$ 0,3 menjadi US$ 104,7 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Mei 2025 naik US$ 0,4 menjadi US$ 95. Sedangkan, Juni 2025 meningkat US$ 0,5 menjadi US$ 94,6. Sedangkan pada Juli 2025 menguat US$ 1,25 menjadi US$ 95,35.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari Oilprice, kesepakatan dagang dagang selama 90 hari antara AS dan China memicu lonjakan aktivitas perdagangan dan kebangkitan kembali energi berbasis batu bara.

Kesepakatan sementara yang diumumkan awal pekan ini mencakup revisi tarif secara menyeluruh selama masa perjanjian. Pasar global pun merespons positif, yaitu harga minyak menguat, kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi global mereda, meskipun hanya sementara.

Hanya dua hari setelah kesepakatan diumumkan, pemesanan kontainer dari China ke AS melonjak hingga 277%. Lonjakan ini diperkirakan akan mendorong kembali aktivitas manufaktur, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan listrik, terutama dari sumber energi dasar seperti batu bara dan gas.

Menurut data lembaga iklim Ember yang dikutip Reuters, pembangkit listrik tenaga angin dan surya di China menyumbang sekitar 39% pasokan listrik pada kuartal I-2025, rekor tertinggi sejauh ini dan naik 18% dari periode yang sama tahun lalu. Namun, capaian ini sebagian besar dipicu oleh lesunya aktivitas manufaktur, yang diperkirakan akan segera pulih.

Data dari Biro Statistik Nasional China menunjukkan, pada kuartal pertama tahun ini, pembangkit listrik berbasis batu bara dan gas sempat menurun tipis karena meningkatnya kontribusi tenaga air, angin, dan surya. Permintaan listrik sempat turun 1,3% dalam dua bulan pertama, namun kembali naik 1,8% pada Maret. Dengan adanya kesepakatan dagang, tren permintaan diperkirakan akan kembali melonjak.

Menariknya, kapasitas terpasang energi angin dan surya di China kini sudah melampaui kapasitas pembangkit termal berbasis batu bara dan gas. Per April 2025, total kapasitas terpasang angin dan surya mencapai 1.482 GW, atau lebih dari 50% kapasitas nasional.

Konsumsi Listrik China

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 55 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia