Jumat, 15 Mei 2026

Pakar Tambang sekaligus Bos Emiten Buka-bukaan soal Harga Emas

Penulis : Thresa Sandra Desfika
17 Mei 2025 | 12:05 WIB
BAGIKAN
Pakar pertambangan yang juga Dirut perusahaan tambang emas nasional PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), Edi Permadi. ANTARA/HO-PSAB
Pakar pertambangan yang juga Dirut perusahaan tambang emas nasional PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), Edi Permadi. ANTARA/HO-PSAB

JAKARTA, investor.id - Kenaikan harga emas dunia yang kini mencapai kisaran US$ 3.200 per ons selain dari permintaan yang meningkat, lebih utama lagi karena faktor geopolitik global yang ditandai konflik di beberapa wilayah.

“Kita bisa lihat ketika konflik antara Rusia dengan Ukraina, kemudian Israel dengan Hamas pada Oktober 2023, Israel dengan Hizbullah pada Juli 2024. Ketika eskalasi konfliknya meningkat, harga emas ikut menguat signifikan. Kemudian baru-baru ini saat ada kebijakan resiprokal Trump dan terbaru konflik Pakistan dengan India juga membuat harga emas menguat,” kata pakar pertambangan yang juga Direktur Utama PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), Edi Permadi di Jakarta, Jumat (16/5/2025).

Pandangan tersebut, lanjut Edi Permadi, juga ditegaskan dalam Gold Return Attribution Model (GRAM) yang menyebutkan risiko geopolitik memberi kontribusi 5,15 persen dari kenaikan harga emas tahun ini. GRAM merupakan model yang dikembangkan oleh World Gold Council untuk memahami faktor-faktor yang mendorong return-nya harga emas.

ADVERTISEMENT

Edi, sebagaimana dikutip dari Antara, melihat bahwa harga emas ke depan masih dalam tren yang menguat. Mengutip analisis JP Morgan, Edi menyebutkan, harga emas tahun depan bisa menciptakan rekor baru menuju kisaran US$ 4.000.

“Apalagi pemerintah Amerika Serikat baru baru ini memutuskan untuk menempatkan emas sebagai aset tier I. Ini akan membuat permintaan emas khusus dari perbankan akan meningkat," kata Edi yang juga Tenaga Profesional (Taprof) Bidang Sumber Kekayaan Alam (SKA) Lemhanas.

Di tengah situasi geopolitik dan ekonomi global yang tidak menentu, emas menjadi salah satu komoditi yang paling diburu. Permintaan yang meningkat namun tidak diimbangi dengan pasokan membuat stok di pasar menipis. Di sinilah hukum pasar berlaku, harga emas terus dalam tren menguat.

"Jika dilihat dalam beberapa tahun terakhir, antara permintaan dan pasokan tidak seimbang sehingga harga pun menguat,” ujarnya.

Sementara untuk Indonesia, menurut Edi, satu langkah positif yang semakin membuat emas makin kuat adalah kebijakan pembentukan Bullion Bank dari pemerintah. Kemudian juga produksi emas nasional yang akan meningkat signifikan yang bersumber dari dua smelter milik PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN.

“Kondisi ini dapat dimanfaatkan pelaku usaha maupun pemerintah untuk meraih keuntungan atau meningkatkan pendapatan negara,” kata Edi.

Namun ia mengingatkan bahwa kondisi pasar yang positif ini juga harus membuat perusahaan lebih memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) dan juga kegiatan eksplorasi.

“Dengan harga seperti sekarang ini, perusahaan harus lebih besar lagi menaruh perhatian pada aspek ESG, kegiatan pemberdayaan masyarakat ditingkatkan dan pastinya tata kelola lingkungan juga lebih ditingkatkan lagi. Bukan berarti ketika harga turun aspek-aspek tersebut kurang mendapat perhatian. Aspek ESG dewasa ini sangat penting untuk mewujudkan pertambangan berkelanjutan,” katanya.

Eksplorasi

Selain ESG, Edi juga mengingatkan perusahaan tambang untuk tidak mengabaikan kegiatan eksplorasi.

“Kita tidak akan bisa berbicara tambang tanpa eksplorasi. Kegiatan eksplorasi adalah nadi yang menentukan berapa lama kegiatan usaha pertambangan. Di saat seperti ini, perusahaan harus mengalokasikan lebih besar lagi dananya untuk eksplorasi,” ungkap Edi.

Eksplorasi ini penting untuk menambah sumber daya dan meningkatkan status dari sumber daya menjadi cadangan.

“Jangan sampai karena harga bagus, perusahaan hanya fokus pada produksi dan mengabaikan eksplorasi. Eksplorasi itu penting dalam menentukan umur tambang,” ujarnya lagi.

Edi kemudian menjelaskan bahwa PT J Resources Asia Pasifik pada 2023 berhasil memproduksi emas sebesar 94 koz dan kemudian meningkat menjadi 101 koz pada 2024.

Saat ini perusahaan mengelola dua tambang yang sedang berproduksi yakni PT J Resources Bolaang Mongondow (PT JRBM) dan satu lagi tambang emas di Penjom, Malaysia. Sementara satu aset sedang dalam masa konstruksi yakni tambang Doup yang dikelola PT Arafura Surya Alam (PT ASA).

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia