Jumat, 15 Mei 2026

Efisiensi Sang Raja Nikel (INCO), plus Target Harga Baru Sahamnya

Penulis : Jauhari Mahardhika
20 Mei 2025 | 16:03 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi kegiatan usaha Vale Indonesia (INCO). (Foto: INCO)
Ilustrasi kegiatan usaha Vale Indonesia (INCO). (Foto: INCO)

JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) kini merupakan perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia. Peringkat (rating) saham INCO naik, tapi target harga diturunkan.

Vale Indonesia (INCO) telah mengumumkan sumber daya awal sebanyak 825 juta wmt saprolit dan 533 juta wmt bijih limonit. Raja nikel tersebut juga mengungkapkan peningkatan cadangan limonit yang signifikan menjadi 564 juta wmt atau naik 63% yoy, sebagai hasil dari konversi sumber daya menjadi cadangan pada 2024.

Selain itu, Vale Indonesia mengajukan RKAB sebesar 2,2 juta ton per tahun pada April 2025 dan saat ini menunggu persetujuan. Setelah disetujui, Vale berharap dapat memulai penjualan pada kuartal III-2025, menyusul dimulainya operasi tambang Bahodopi.

ADVERTISEMENT

Emiten berkode saham INCO tersebut juga memperbarui jadwal belanja modal (capex) untuk proyek pertumbuhannya hingga tahun 2029, yang menunjukkan penurunan sebesar US$ 800 juta atau 21% pada capex HPAL Pomalaa menjadi US$ 2,7 miliar.

“Itu menyiratkan intensitas belanja modal sebesar US$ 22.500 per ton, turun dari sebelumnya US$ 28.300 per ton,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya, yang dikutip pada Selasa (20/5/2025).

Penurunan signifikan juga terjadi dalam belanja modal penambangan di Pomalaa, Sorowako, dan Bahodopi. Sedangkan dari sisi jadwal proyek, penyelesaian tambang Bahodopi dimajukan menjadi kuartal III-2025 dari sebelumnya kuartal IV-2025. Proyek lainnya mengalami keterlambatan 1-2 kuartal.

“Biaya awal penambangan di Bahodopi diperkirakan sebesar US$ 10-11 per wmt. Di Pomalaa sebesar US$ 7,5-8,5 per wmt,” sebut Timothy.

Biaya di Pomalaa lebih rendah karena lokasinya lebih dekat ke pelabuhan (22 km) dibanding Bahodopi (67 km). Pomalaa beroperasi dalam skala yang jauh lebih besar, yaitu 28 juta ton per tahun, dibandingkan Bahodopi yang sebesar 16 juta ton per tahun.

Target Harga Baru Saham INCO 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 17 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 21 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia