Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Kompak Nyungsep Imbas Perang Dagang Trump yang Memanas

Penulis : Indah Handayani
12 Jul 2025 | 06:00 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Wall Street
Sumber; AP
Ilustrasi Wall Street Sumber; AP

NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street ditutup kompak melemah pada Jumat (11/7/2025). Pelemahan tersebut terjadi menyusul eskalasi terbaru dalam perang dagang yang dipicu oleh Presiden AS Donald Trump.

Dikutip dari CNBC internasional, Dow Jones Industrial Average jatuh 279,13 poin (0,63%) ke level 44.371,51. Sementara itu, S&P 500 turun 0,33% ke 6.259,75 dan Nasdaq Composite melemah 0,22% ke 20.585,53.

Koreksi ini terjadi sehari setelah ketiga indeks utama mencatatkan kenaikan, dengan S&P 500 bahkan menyentuh rekor tertinggi baru. Namun, sentimen berubah cepat pasca Trump mengumumkan tarif impor 35% terhadap Kanada, disusul ancaman tarif menyeluruh sebesar 15–20% terhadap negara-negara lain.

ADVERTISEMENT

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut lonjakan tarif ke Kanada terkait isu fentanyl, dan memberi sinyal bahwa tarif bisa naik lebih tinggi jika Kanada melakukan pembalasan. “Jika Kanada bekerja sama menghentikan aliran fentanyl, mungkin kami akan mempertimbangkan penyesuaian,” tulis Trump.

Kepada NBC News, Trump juga menyatakan bahwa tarif menyeluruh sebesar 15–20% sedang dipertimbangkan, lebih tinggi dari standar 10% yang sebelumnya dianggap stabil oleh pelaku pasar.

Kendati pada Kamis (10/7/2025) investor sempat mengabaikan kekhawatiran soal perang dagang, terbukti dari naiknya S&P sebesar 0,3% dan Nasdaq 0,1%, situasi berubah drastis keesokan harinya.

Ketidakpastian Tarif

Pasar sempat menunggu pembaruan terkait tarif ke Uni Eropa pada Jumat, namun hingga penutupan bursa, belum ada pernyataan resmi dari Trump. Ketidakpastian inilah yang menambah tekanan di pasar.

Pelemahan indeks pada Jumat juga membuat ketiga indeks utama menutup minggu ini di zona merah. Dow Jones turun 1%, S&P 500 melemah 0,3%, dan Nasdaq terkoreksi tipis 0,1% dalam sepekan terakhir.

“Awalnya investor bisa menyaring retorika perang dagang, tapi besarnya skala tarif terhadap salah satu mitra dagang utama seperti Kanada benar-benar mengejutkan,” ujar Kepala Strategi Pasar di B. Riley Wealth Management Art Hogan.

Pelaku pasar kini bersiap menghadapi musim laporan keuangan kuartal II yang dimulai pekan depan. Selain itu, data inflasi AS juga akan menjadi sorotan utama, terutama dalam konteks arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih diperdebatkan.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 8 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia