Jumat, 15 Mei 2026

Laba Bersih Emiten Ini Melonjak 386%

Penulis : Thresa Sandra Desfika
21 Jul 2025 | 07:34 WIB
BAGIKAN
PAM Mineral (NICL). Ist
PAM Mineral (NICL). Ist

JAKARTA, investor.id - Emiten sektor pertambangan yang dikendalikan oleh Christopher Sumasto Tjia, PT PAM Mineral Tbk (NICL) berhasil mencatatkan penjualan pada semester I-2025 sebesar Rp 1,05 triliun, meroket sebesar 152,07% dibandingkan dengan perolehan penjualan pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 419,19 miliar.

Peningkatan yang signifikan pada nilai penjualan, ditopang dengan peningkatan volume penjualan nikel dari 707.597 mt menjadi 1.885.433 mt atau meningkat sebesar 166,46%.

Imbas dari peningkatan penjualan diiringi dengan efisiensi biaya, laba kotor perseroan juga meningkat tajam dari Rp 142,85 miliar pada semester I-2024 menjadi sebesar Rp 523,46 miliar. Hal ini mencerminkan peningkatan yang signifikan sebesar 266,43% yoy.

Seiring dengan peningkatan laba kotor, marjin laba kotor perseroan juga mengalami peningkatan dari sebesar 34,08% melesat menjadi sebesar 49,54%.

ADVERTISEMENT

Sejalan dengan peningkatan laba kotor, laba usaha perseroan juga meroket dari sebelumnya hanya sebesar Rp 87,87 miliar pada semester I-2024 menjadi Rp 456,30 miliar pada semester I-2025 atau meningkat tajam sebesar 419,32%.

Peningkatan volume penjualan serta efisiensi beban usaha menyebabkan laba neto periode berjalan perseroan melambung tajam yaitu sebesar Rp 358,07 miliar pada semester I-2025 dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 73,59 miliar. Laba neto periode berjalan semester I-2025 meningkat tajam sebesar 386,51% dari periode sebelumnya.

“Sejak akhir tahun 2024, harga acuan nikel domestik mengalami penurunan sebesar 3,80% sejalan dengan tren global dan euforia pasar kendaraan listrik yang mulai normal serta meningkatnya permintaan baja stainless steel,” kata Direktur Utama PAM Mineral (NICL), Ruddy Tjanaka dalam keterangan resmi dikutip Senin (21/7/2025).

“Kami melihat bahwa penurunan harga nikel tersebut merupakan koreksi positif dan sudah diprediksi oleh perseroan. Perseroan sudah menyiapkan langkah antisipatif sejak awal tahun, tercermin dengan kinerja operasional dan keuangan perseroan yang bertumbuh pada semester pertama tahun 2025. Kami meyakini penurunan harga ini merupakan fluktuasi jangka pendek dan perseroan berkomitmen untuk tetap adaptif terhadap situasi terkini guna mempersiapkan juga mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi,” ungkap Ruddy.

Puas

Menurutnya, di tengah situasi geopolitik global yang belum stabil dan turut berdampak pada perekonomian dalam negeri, pihaknya tetap merasa puas dengan kinerja operasional dan keuangan perseroan pada kuartal II-2025.

Perseroan mencatatkan pertumbuhan jumlah aset pada semester I-2025 sebesar Rp 1,09 triliun atau tumbuh sekitar 4,73% dibandingkan dengan jumlah aset pada tahun 2024 yaitu sebesar Rp 1,05 triliun.

Pada periode Juni 2025, perseroan mencatatkan penurunan jumlah liabilitas di mana pada periode tersebut perseroan mencatatkan Rp 150,69 miliar jumlah liabilitas dibandingkan dengan periode Desember 2024 sebesar Rp 171,92 miliar. Perseroan juga tidak memiliki utang bank jangka panjang.

Di sisi lain, total ekuitas perseroan mengalami peningkatan dari Rp 878,18 miliar menjadi Rp 949,13 miliar pada periode semester satu tahun 2025, hal ini disebabkan oleh peningkatan saldo laba tahun berjalan perseroan yang sangat signifikan.

PAM Mineral (NICL) memperkirakan pada semester dua tahun 2025 ini, harga nikel masih bergerak fluktuatif imbas dari kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat yang masih menghantui stimulus ekonomi global ditambah dengan adanya kelebihan pasokan yang dapat menambah tekanan pada harga nikel.

Namun, industri nikel domestik memiliki peluang strategis di mana adanya ketegangan antara China dan negara barat yang membuat banyak negara mencari alternatif pasokan logam kritis, Indonesia dapat memanfaatkan peluang itu sebagai pemain kunci non-China.

Kondisi dan situasi nikel domestik saat ini semakin kompetitif dengan adanya beberapa smelter yang beroperasi dengan berbagai teknologi sehingga hal ini menjadi keuntungan untuk perseroan dengan beberapa jenis kategori (produk) ore yang diproduksi oleh Perseroan sesuai dengan kebutuhan market.

Melihat situasi market domestik saat ini sebagai bagian dari strategi perseroan dengan memperluas jaringan pemasaran melalui upaya menjalin kerjasama dengan beberapa smelter dan trader sehingga wilayah area pemasaran tidak hanya di wilayah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah akan tetapi sampai ke Pulau Obi dan Pulai Halmahera. Selain itu perseroan juga akan membuka peluang untuk mencari beberapa partner strategis dalam rangka pengembangan usaha perseroan.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 23 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 27 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia