Jumat, 15 Mei 2026

Tiga Saham Unggulan Sektor SDA

Penulis : Muawwan Daelami
28 Jul 2025 | 08:04 WIB
BAGIKAN
Pabrik emas PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) via anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM), di Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: BRMS)
Pabrik emas PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) via anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM), di Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: BRMS)

JAKARTA, investor.id – Fokus investor diproyeksikan bakal tetap tertuju pada saham-saham di sektor sumber daya alam (SDA) yang sedang bertransformasi bisnis menuju energi dan mineral kritis. Alasannya, saham di sektor tersebut akan menjadi penopang pertumbuhan jangka panjang pasar modal Indonesia.

Pendiri Stocknow Hendra Wardana menyebut tiga saham unggulan sektor SDA yang bisa menjadi pilihan para pelaku pasar. Ketiganya adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).

Hendra memfavoritkan BRMS karena anak usaha Grup Bakrie ini mulai serius menggarap potensi tambang tembaga melalui anak usahanya, PT Gorontalo Minerals. Meski, pendapatan BRMS saat ini masih didominasi produksi emas dari proyek Citra Palu Minerals dengan laba bersih melesat lebih dari 300% yoy ke US$14 juta pada kuartal I 2025, namun manajemen BRMS secara eksplisit telah menegaskan mereka fokus mempercepat eksplorasi dan pengembangan tembaga di Gorontalo.

ADVERTISEMENT

Potensi sumber daya proyek Gorontalo ini besar dengan estimasi cadangan probable mencapai 105 juta ton dan kadar tembaga hingga 0,7%. Menurut Hendra, jika terealisasi sesuai target, BRMS tidak hanya menjadi diversifikasi strategis bagi Grup Bakrie, tetapi juga bisa menjelma sebagai salah satu produsen tembaga nasional yang signifikan, mendukung kebutuhan logam dasar untuk kendaraan listrik dan infrastruktur hijau di masa depan.

“Saham BRMS kami rekomendasikan buy dengan target harga Rp 480,” tulis Hendra dalam keterangan tertulisnya kepada Investor Daily, Minggu (27/7/2025).

Selain BRMS, ada juga saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Emiten Boy Thohir yang sebelumnya fokus pada batu bara termal ini sekarang menjadi entitas energi terintegrasi yang lebih berkelanjutan. Kata Hendra, ADRO saat ini hanya mempertahankan bisnis batu bara kokas yang lebih ramah lingkungan dan digunakan dalam industri baja.

Sebaliknya, ADRO agresif mengembangkan bisnis energi hijau melalui Adaro Green dan Adaro Minerals. Investasi besar mereka diarahkan ke proyek-proyek PLTS, PLTA, dan hidrogen, serta pembangunan rantai pasok baterai kendaraan listrik dengan cadangan nikel dan bauksit sebagai tulang punggungnya.

Visi Adaro Energy 4.0 yang menggabungkan energi bersih, mineral masa depan, dan ekosistem EV supply chain, menurut Hendra, menunjukkan keseriusan perseroan dalam menghadapi era dekarbonisasi. “Dengan strategi tersebut, saham ADRO direkomendasikan buy dengan target harga Rp 2.100,” ungkap Hendra.

Saham sektor SDA terakhir yang diunggulkan adalah TOBA. Saat ini, Hendra memaparkan, TOBA fokus mengonsolidasikan lini usahanya ke dalam satu ekosistem energi hijau, mencakup pembangkit terbarukan, pertambangan, hingga kendaraan listrik.

Emiten ini menjadi contoh nyata dari perusahaan energi tradisional yang bertransformasi secara proaktif menyambut era energi bersih. Bahkan, TOBA kini makin menonjol sebagai salah satu pemain penting dalam pembangunan infrastruktur energi hijau nasional.

“Dengan strategi jangka panjang yang jelas dan portofolio bisnis yang terdiversifikasi, saham TOBA menarik untuk dikoleksi dengan target harga Rp 1.200,” tutur Hendra.

Proyeksi IHSG

Mengawali pekan ini, IHSG diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan menguat. Resistance jangka pendek berada di area 7.600 dan support kuat di kisaran 7.478. Proyeksi ini setelah mempertimbangkan sentimen global yang masih campuran dan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan China dan Amerika Serikat (AS).

Sementara pekan kemarin, IHSG berakhir moderat sebesar 12,60 poin atau 0,17% ke level 7.543,50 di tengah tekanan dari pasar regional yang mayoritas melemah. Meski indeks LQ45 terkoreksi 0,66%, Hendra berpendapat, pergerakan IHSG justru mencerminkan ketahanan pasar domestik terhadap ketidakpastian global, termasuk isu perang dagang dan sinyal perlambatan ekonomi Eropa.

Aktivitas perdagangan tercatat cukup aktif, dengan nilai transaksi mencapai Rp11,9 triliun di mana Rp 1,59 triliun berasal dari pasar negosiasi. Dari sisi makro, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat tipis ke Rp16.310 per dolar AS, menunjukkan stabilitas di tengah volatilitas eksternal.

Dari sisi eksternal, Hendra melihat, ketidakpastian masih menjadi tema dominan khususnya dari Eropa dan Asia. Indeks utama seperti DAX Jerman dan Nikkei Jepang melemah tajam akibat kekhawatiran terhadap dampak jangka pendek negosiasi tarif AS–Uni Eropa, serta turunnya kepercayaan konsumen di Inggris dan Jerman.

Sedangkan, pasar AS tetap relatif stabil dengan indeks Dow dan S&P futures menguat didorong ekspektasi penyelesaian kesepakatan dagang dan laporan laba emiten yang solid. Di pasar komoditas, harga minyak mencatat kenaikan moderat setelah penguatan sebelumnya, sementara harga emas dan logam industri seperti tembaga dan perak mengalami koreksi akibat penurunan minat aset safe haven seiring optimisme dagang global.

Editor: Muawwan Daelami

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia