Jumat, 15 Mei 2026

Saham Melejit, Trump Tetapkan Tarif Impor ke Uni Eropa Lebih Rendah dari Indonesia

Penulis : Yurike Metriani
28 Jul 2025 | 12:15 WIB
BAGIKAN
Presiden AS Donald Trump. (Istimewa)
Presiden AS Donald Trump. (Istimewa)

JAKARTA, investor.id - Presiden AS Donald Trump menyepakati tarif impor tunggal 15% dengan Uni Eropa pada Minggu, (27/7). Tarif tersebut lebih rendah dibanding tarif yang dikenakan terhadap barang dari Indonesia senilai 19%. Kesepakatan ini disertai komitmen investasi Eropa senilai US$ 1,35 triliun ke sektor energi dan manufaktur AS. 

Pasar saham Amerika langsung melonjak, sementara negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tekanan dagang lebih besar tanpa keistimewaan serupa. Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah kompromi yang mencegah penerapan tarif agresif sebesar 30% yang sebelumnya diancam oleh Trump, dan sebagai gantinya, Uni Eropa sepakat untuk membuka pasar lebih besar bagi produk-produk pertanian, energi, dan teknologi AS. 

Kesepakatan ini diperkuat dengan komitmen investasi Uni Eropa ke sektor energi AS senilai US$ 750 miliar serta kesediaan untuk menanamkan tambahan US$ 600 miliar dalam infrastruktur dan manufaktur tinggi AS selama lima tahun ke depan. Trump menyatakan bahwa kesepakatan ini menguntungkan Amerika tanpa sepenuhnya menghancurkan hubungan trans-Atlantik. Namun, pejabat Uni Eropa menegaskan bahwa kesepakatan hanya akan berjalan jika tidak ada tarif tambahan sepihak setelah Agustus. Sejumlah negara anggota UE, seperti Jerman dan Prancis, menyuarakan kekhawatiran atas dominasi AS dalam negosiasi ini, namun menyambut baik stabilitas jangka pendek. 

Hubungan Dagang Amerika Serikat dengan Sebagian Negara Asia

Sementara itu, hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok tetap berada dalam ketidakpastian. Dengan perjanjian gencatan tarif yang berlaku hingga 12 Agustus, kedua pihak dikabarkan akan memperpanjang masa negosiasi. AS menuntut pengurangan praktik subsidi industri oleh Tiongkok dan perlindungan kekayaan intelektual, sementara Tiongkok bersikeras bahwa AS harus membatalkan tarif tambahan terhadap barang teknologi dan otomotif. Sejumlah pejabat AS menyebut bahwa “kemajuan teknis” telah dicapai, namun belum ada pengumuman resmi mengenai kesepakatan penuh.

Negara-negara di Asia lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan juga merespons dinamika ini dengan memacu perjanjian dagang bilateral mereka dengan AS. Jepang menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan tarif otomotif dan semikonduktor bila diminta, demi menjaga akses pasar ekspor ke AS tetap terbuka. Korea Selatan, di sisi lain, sedang menjajaki skema "tarif terarah" khusus untuk ekspor energi terbarukan dan baterai EV ke AS, yang dapat memperoleh tarif preferensial dalam kerangka keamanan energi bersama. 

Di kawasan Amerika Latin, negara seperti Meksiko dan Brasil menghadapi tekanan tak langsung dari dinamika tarif baru ini. Meksiko, sebagai negara mitra dalam USMCA, menyampaikan keprihatinan bahwa insentif investasi Eropa di AS dapat mengalihkan peluang investasi dari negara-negara berkembang. Brasil, yang sebelumnya diincar AS untuk kerja sama sektor pertanian, menyuarakan harapan agar tetap mendapat akses pasar bebas tarif untuk komoditas seperti kedelai, daging sapi, dan bioetanol. 

India, sebagai ekonomi berkembang besar lainnya, menyampaikan sikap hati-hati namun siap membuka diskusi tarif bilateral dengan AS, khususnya di sektor farmasi dan teknologi informasi. Pemerintah India juga menekankan bahwa mereka tidak akan menandatangani kesepakatan yang mengorbankan kepentingan petani dan UMKM domestik. 

Dampak Terhadap Crypto dan Saham Amerika 

Dampak dari seluruh dinamika ini terasa langsung di pasar keuangan global. Indeks saham utama AS seperti Dow Jones, Nasdaq, dan S&P 500 menguat setelah kesepakatan AS–UE diumumkan. Aset crypto seperti Bitcoin sempat melonjak ke atas US$ 119.000, sementara itu Ethereum dan BNB mencetak kenaikan serupa dalam hitungan menit setelah berita tersebar. Kapitalisasi total pasar kripto melonjak sekitar 3% dalam 24 jam, dengan volume perdagangan meningkat tajam. 

Fundstrat melihat kesepakatan ini sebagai penghilang risiko makro besar, membuka ruang untuk aset berisiko seperti Bitcoin menerima aliran modal dari investor institusional. Sementara itu, stablecoin di bursa menguat kembali setelah sempat turun, sebagai indikasi bahwa trader bersiap memindahkan likuiditas ke aset kripto utama. Lonjakan nilai total dana di DeFi dan TVL yang naik menunjukkan potensi rotasi modal dari stablecoin ke altcoin.

Selanjutnya, dengan adanya kesepakatan tarif ini menunjukkan sentimen investor terhadap meredanya risiko geopolitik. Harga komoditas seperti minyak dan tembaga juga naik tipis, mengindikasikan ekspektasi meningkatnya arus perdagangan global dan aktivitas manufaktur. 

Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa meski ketegangan berhasil diredakan untuk sementara, struktur tarif baru ini berpotensi menciptakan ketimpangan jangka panjang dan pemisahan blok ekonomi. Jika kesepakatan AS–UE memicu pola tarif eksklusif, negara-negara lain mungkin terdorong membentuk koalisi dagang tandingan, memperkuat fragmentasi ekonomi global.

Editor: Yurike Metriani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia