Di Balik Tekanan Kinerja ADMR
Penurunan pendapatan usaha ADMR membuat laba bruto perseroan menipis sebanyak 45,39% secara yoy menjadi US$ 180,19 juta daripada laba bruto sebelumnya sebesar US$ 329 juta. Artinya, efisiensi yang dilakukan perseroan belum mampu mengangkat performa perseroan.
Faktor lain yang menekan kinerja ADMR datang dari fluktuasi nilai tukar. Per 30 Juni 2025, perseroan menelan total kerugian akibat selisih nilai tukar sebesar US$ 2,66 juta atau ekuivalen Rp 43 miliar (asumsi kurs Rp 16.490 per US$). Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode 30 Juni 2024 yang mana perseroan justru mencetak untung sebesar US$ 250,87 ribu.
Setelah dipotong pajak, ADMR membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 140,49 juta atau setara Rp 2,31 triliun, melemah sebanyak 43.51%. Kemudian, setelah dipotong kepentingan non-pengendali, laba periode berjalan perseroan menyisakan sebesar US$ 138,88 juta atau setara Rp 2,28 triliun, lebih kecil dari sebelumnya US$ 247,82 juta.
Dari sisi kas dan setara kas, ADMR mempunyai pegangan cukup tebal. Bahkan, kas dan setara kas perseroan per 30 Juni 2025 meningkat menjadi US$ 429,94 juta dibanding periode serupa tahun sebelumnya yang mencatatkan sebesar US$ 399,16 juta.
Baca Juga:
Grup Bakrie Berburu Cadangan Migas BaruTotal aset perseroan juga menguat dari US$ 2,07 miliar menjadi US$ 2,44 miliar. Bersamaan dengan itu, total liabilitas ADMR membengkak ke posisi US$ 891,42 juta dari sebelumnya US$ 571,33 juta dengan total ekuitas membukukan sebesar US$ 1,55 miliar.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






