Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Bisa ke US$ 5.000, Kata Goldman Sachs

Penulis : Natasha Khairunisa Amani
5 Sep 2025 | 08:40 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Emas. (Pegadaian/Istimewa)
Ilustrasi Emas. (Pegadaian/Istimewa)

JAKARTA, investor.id - Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat Federal Reserve (The Fed) diperkirakan dapat menaikkan harga emas hingga mencapai US$ 5.000 per ons.

Pasalnya, ketegangan tersebut berisiko menurunkan kepercayaan investor terhadap Dolar AS. Hal itu diungkapkan oleh para analis di Goldman Sachs.

"Jika 1% dari pasar obligasi pemerintah AS milik swasta beralih ke emas, harga emas akan naik menjadi hampir $5.000 per troy ounce," ungkap salah satu kepala riset komoditas global di Goldman Sachs, Daan Struyven, dikutip dari Mining.com, Jumat (5/9/2025).

Para analis Goldman Sachs, dalam sebuah catatan mengatakan bahwa upaya Trump untuk mengintervensi bank sentral AS dapat semakin mengikis kepercayaan terhadap aset-aset berdenominasi dolar, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Catatan tersebut muncul hanya sehari setelah harga emas dunia menembus kisaran USD$ 3.560 per ons. Harga logam mulia telah naik 35% sepanjang tahun 2025, karena investor dan bank sentral mengincar emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian politik dan kekhawatiran utang AS.

Kenaikan terbaru ini sekaligus didorong oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, yang dapat menguntungkan aset-aset non-imbal hasil seperti emas.

"Skenario di mana independensi The Fed terganggu kemungkinan akan menyebabkan inflasi yang lebih tinggi, harga saham dan obligasi jangka panjang yang lebih rendah, serta terkikisnya status dolar sebagai mata uang cadangan," ujar Struyven.

Di sisi lain, Struyven juga mencatat, emas memiliki keunggulan di mana penyimpan nilainya tidak bergantung pada kepercayaan institusional.

Goldman Sachs memprediksi, harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan hingga mencapai rata-rata US$ 3.700 pada akhir 2025, kemudian lanjut naik ke kisaran US$ 4.000 pada pertengahan 2026, dengan asumsi pembelian bank sentral tetap kuat.

Namun, skenario tersebut belum termasuk hitungan dari potensi :pergerakan besar" keluar dari aset dolar, seperti obligasi, oleh investor swasta, yang menurut Goldman dapat mendorong harga emas lebih tinggi lagi.

Pada hari Kamis (5/9), harga emas spot turun 0,38% ke level US$ 3.545,8 per ons.

Harga Emas Dilanda Profit Taking

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 27 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia