Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Bisa Tembus US$ 3.700? Begini Analisis Standard Chartered

Penulis : Natasha Khairunisa Amani
5 Sep 2025 | 16:30 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi perdagangan emas. (Treasury)
Ilustrasi perdagangan emas. (Treasury)

JAKARTA, investor.id - Pergerakan harga emas dunia yang telah menembus kisaran US$ 3.500 per ons telah mendorong pasar ke tren jenuh beli (overbought). Namun, analis pasar melihat bahwa harga masih berpeluang untuk naik lebih tinggi, karena ketidakpastian terus mendominasi sentimen di pasar global.

Dikutip dari Kitco.com, Jumat (5/9/2025) Kepala Riset Komoditas di Standard Chartered Bank, Suki Cooper dalam laporan terbarunya memperkirakan bahwa harga emas dapat mencapai level US$ 3.700 per ons pada kuartal keempat tahun ini.

“Kenaikan harga terbaru selama sepekan terakhir didorong oleh berbagai faktor, termasuk ketidakpastian yang berkelanjutan seputar tarif, ekspektasi pelonggaran moneter, meningkatnya kekhawatiran utang AS, dan kekhawatiran atas independensi The Fed,” ujar Cooper.

“Daya tarik emas sebagai aset safe haven terus meningkat menjelang data ketenagakerjaan AS dan pertemuan The Fed bulan September," ungkapnya.

Cooper juga mencatat bahwa harga emas tidak hanya mencapai rekor tertinggi baru terhadap Dolar AS, tetapi juga mengalami penguatan yang luas terhadap semua mata uang utama global. Dia menyebut, permintaan yang luas ini akan terus mendukung tren kenaikan emas jangka panjang.

“Tidak mengherankan, volume perdagangan emas telah meningkat secara global, tetapi ada dua area yang menonjol. Pertama, pembelian emas ETP meningkat pada laju tercepatnya sejak Februari selama seminggu terakhir, dan kedua, volume perdagangan di Shanghai Gold Exchange meningkat lebih cepat daripada di kawasan-kawasan utama lainnya. Reli ini tidak terkonsentrasi hanya di satu kawasan,” paparnya.

Reli emas dimulai setelah Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell mengisyaratkan pergeseran kebijakan moneter AS dalam pidatonya di simposium tahunan bank sentral di Jackson Hole, Wyoming. Powell mengatakan pergeseran keseimbangan risiko tersebut mungkin memerlukan penyesuaian kebijakan moneter.

Menyusul pernyataan Powell, pasar mulai secara agresif memperkirakan penurunan suku bunga The Fed akan terjadi pada akhir bulan September, dan kenaikan inflasi tidak mengubah ekspektasi tersebut.

Cooper, yang tetap positif terhadap emas, mengatakan data ekonomi yang mengecewakan dapat mendorong ekspektasi untuk pelonggaran yang lebih agresif.

"Emas, seperti pasar lainnya, berfokus pada NFP AS dan pertemuan The Fed bulan September. Menurut ahli strategi makro kami, angka NFP bulan Agustus di bawah 40 ribu akan mendorong pasar menuju pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin," terangnya.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 8 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia