Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Tembus US$ 3.600, Sentuh Rekor Tertinggi

Penulis : Indah Handayani
9 Sep 2025 | 04:06 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas
Sumber; AP
ilustrasi harga emas Sumber; AP

NEW YORK, investor.id – Harga emas dunia melesat menembus level US$ 3.600 per ons pada perdagangan Senin (8/9/2025), dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Lonjakan ini terjadi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan.

Dikutip dari Reuters, hal itu memperkuat ekspektasi The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan 16-17 September mendatang.

Harga emas spot naik 1,37% menjadi US$ 3.635,9 per troy ons. Logam mulia ini bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 3.646,29. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 0,7% di level US$3.677,40 per ons.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals Peter Grant mengatakan, momentum bullish emas diprediksi berlanjut hingga ke kisaran US$ 3.700– 3.730 dalam waktu dekat.

“Pelemahan pasar tenaga kerja yang berkelanjutan serta ekspektasi pemangkasan suku bunga hingga awal 2026 bisa menjadi faktor penopang harga emas,” ujarnya.

Laporan ketenagakerjaan AS pada 5 September 2025 menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat tajam pada Agustus. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan 88% peluang The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat September, dan 12% peluang pemangkasan yang lebih agresif sebesar 50 basis poin.

Turunnya suku bunga membuat emas semakin menarik karena mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil ini.

Harga Emas Terbang

Sepanjang tahun berjalan 2025, harga emas sudah melonjak 37%, setelah tahun lalu naik 27%. Kenaikan ini didorong oleh pelemahan dolar AS, aksi beli besar-besaran bank sentral, kebijakan moneter longgar, serta meningkatnya ketidakpastian global.

Data resmi terbaru menunjukkan bank sentral China melanjutkan aksi beli emas selama 10 bulan berturut-turut hingga Agustus. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di titik terendah dalam lima bulan terakhir.

Pasar kini menanti rilis data indeks harga produsen (PPI) pada Rabu (9/9/2025) dan indeks harga konsumen (CPI) pada Kamis (10/9/2025) untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut soal arah kebijakan The Fed.

Analis pasar di City Index dan FOREX.com Fawad Razaqzada mengatakan, jika data ekonomi AS terus melemah, momentum bullish emas diprediksi berlanjut karena dolar AS dan imbal hasil obligasi semakin tertekan.

“Namun, bila data menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengejutkan, emas bisa terkoreksi dari level tingginya saat ini,” paparnya.

Selain emas, harga perak spot naik 0,8% menjadi US$ 41,29 per ons, level tertinggi sejak September 2011. Platinum juga menguat 0,6% ke US$ 1.381,49 per ons, sedangkan palladium melonjak 2,1% menjadi US$ 1.132,87 per ons

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia