Jumat, 15 Mei 2026

BBCA Siap Loncat, Target Harga Masih Jauh

Penulis : Jauhari Mahardhika
14 Sep 2025 | 07:01 WIB
BAGIKAN
Presiden Direktur BCA (BBCA), Hendra Lembong. (Investor Daily/David Gita Roza)
Presiden Direktur BCA (BBCA), Hendra Lembong. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA dinilai berada dalam jalur yang tepat untuk mencapai target, bahkan bisa melampaui proyeksi dalam rencana bisnis bank tahun ini.

BCA terkenal dengan bisnis model yang prudent dan konservatif dalam membuat rencana bisnis. “BCA sering kali mencapai target dari sisi penyaluran kredit hingga bottom line,” ungkap analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan dalam keterangannya, yang dikutip pada Minggu (14/9/2025).

Menurut dia, manajemen BCA tetap menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 6-8%. Padahal, sepanjang semester I-2025, penyaluran kredit oleh emiten berkode saham BBCA tersebut telah mencapai 12,9%.

ADVERTISEMENT

“Target pertumbuhan kredit BBCA tahun ini kemungkinan besar tercapai, bahkan bisa terlampaui,” ucapnya.

Adapun pertumbuhan kredit BBCA selama semester I-2025 disokong oleh sektor produktif, terutama segmen korporasi yang bertumbuh 16,1% yoy, segmen komersial dengan pertumbuhan 12,6%, dan SME sebesar 11,1%. Sedangkan segmen konsumer tumbuh moderat 7,6%.

“Menariknya, segmen kredit SME tumbuh jauh di atas rata-rata industri perbankan. Ini karena BBCA banyak melakukan take over kredit SME berkualitas baik. Price kredit SME BBCA cukup kompetitif, sehingga pangsa pasar di SME bisa tumbuh di industri perbankan,” sebut Jonathan.

Dari sisi pendanaan, dana murah (CASA) BBCA mencapai Rp 982 triliun dengan rasio 82,5% terhadap total dana pihak ketiga (DPK). Loan to deposit ratio (LDR) sebesar 78%. Total secondary reserves & marketable securities BBCA mencapai Rp 433 triliun atau 29% dari total aset.

“Likuiditas perseroan sangat ample, sehingga tidak perlu terlibat dalam kompetisi bunga deposito yang ketat. Likuiditas ini juga lebih dari cukup untuk mendukung ekspansi kredit,” kata dia.

Hingga semester I-2025, BCA (BBCA) mencetak laba bersih Rp 29 triliun atau tumbuh 8% yoy. Net interest income meningkat 7%. Non-interest income melonjak 10,6% berkat peningkatan fee based income dan trading income. Rasio kredit bermasalah (NPL) masih terjaga sebesar 2,2% dengan coverage ratio 167%.

Dengan kondisi ekonomi makro semester II-2025 yang diprediksi makin membaik, maka bakal terjadi peningkatan kualitas kredit di industri perbankan, termasuk BBCA.

“Jika kualitas kredit membaik, pencadangan bisa dikurangi pada semester II sehingga memberi ruang lebih pada pertumbuhan laba. Hal ini sesuai dengan pernyataan manajemen yang menyebutkan bahwa pencadangan akan dijaga pada level cukup,” tutur dia.

Sementara itu, di lantai bursa, saham BBCA pada perdagangan Jumat (12/9/2025) ditutup menguat Rp 75 (0,9%) ke level Rp 7.925.

Target Harga BBCA 

Saham BBCA dinilai masih prospektif dalam jangka menengah dan panjang, seiring kuatnya pendanaan dan penerapan manajemen risiko tepat sasaran. Saham BBCA masih mendapatkan rekomendasi positif.

CLSA menilai, BBCA memiliki rekam jejak kuat dalam hal pendanaan yang dapat menopang pertumbuhan kredit. Ini merupakan hasil dari memberikan layanan prima ke nasabah, terutama pembayaran dan penyelesaian transaksi.

“BBCA kini menjadi bank bereputasi terbaik dalam hal transaksi,” tulis CLSA dalam risetnya.

CLSA juga menilai bahwa BBCA adalah bank yang paling hati-hati di Indonesia. Perseroan memiliki standar pengucuran kredit solid untuk mengelola risiko tanpa mengorbankan pertumbuhan. Hal itu sudah teruji saat pandemi. Kala itu, kualitas aset BBCA lebih baik dibandingkan para pesaing.

CLSA mempertahankan rekomendasi outperform untuk saham BBCA dengan target harga Rp 12.100. ROE BBCA diprediksi mencapai 21%, risk free rate 75%, dan market risk premium 5%.

Menurut CLSA, fundamental kuat BBCA menjustifikasi valuasi premium sahamnya. Selain itu, rasio kecukupan modal BBCA sangat kuat, yaitu mencapai 28,4%. Ini membuka jalan pembagian dividen besar dalam beberapa tahun ke depan.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 7 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 17 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia