Jumat, 15 Mei 2026

Orang Kaya Borong Emas

Penulis : Thresa Sandra Desfika
16 Sep 2025 | 08:58 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi harga emas perhiasan
Sumber; David Gita Roza (B-Universe)
Ilustrasi harga emas perhiasan Sumber; David Gita Roza (B-Universe)

JAKARTA, investor.id - HSBC melalui survei Affluent Investor Snapshot 2025 mencatat, investor segmen kelas atas (affluent) alias orang kaya Indonesia menempati posisi teratas dalam kepemilikan emas di antara 11 negara lainnya dengan rata-rata alokasi sekitar 25 persen dari portofolio mereka.

Alokasi emas tersebut melonjak sebesar 12 poin persentase dari tahun sebelumnya. Sementara kepemilikan uang tunai pada investor affluent Indonesia menurun 6 poin persentase menjadi 19 persen dari portofolio.

Head of Networks Sales and Distribution HSBC Indonesia Sumirat Gandapraja dalam media briefing di Jakarta, Senin (15/9/2025), menjelaskan bahwa negara-negara lain yang disurvei HSBC juga mencatatkan penurunan kepemilikan uang tunai.

ADVERTISEMENT

Namun, investor affluent di negara lain tidak hanya cenderung meningkatkan alokasi investasi ke emas melainkan juga aset-aset lainnya seperti saham.

Meski begitu, portofolio investor affluent Indonesia tetap terdiversifikasi di berbagai aset seperti properti (10 persen dari portofolio), obligasi (10 persen dari portofolio), dan saham (5 persen dari portofolio).

“Investor Indonesia ini tipe yang sekalinya tidak cash, langsung ke emas daripada obligasi atau saham. Bahkan porsi saham berkurang (turun 5 poin persentase dibanding 2024),” kata Sumirat dikutip dari Antara.

Menurut dia, hal ini turut dipengaruhi oleh faktor literasi. Sumirat mengingatkan bahwa volatilitas pasar biasanya tidak berlangsung lama, sehingga investor yang terlalu takut berinvestasi di saham, terutama saham teknologi, justru berisiko kehilangan momentum di tengah pertumbuhan positif pasar Amerika dan China.

Adapun tiga produk keuangan teratas yang saat ini dimiliki oleh investor affluent Indonesia secara umum antara lain emas fisik (44 persen), deposito berjangka (33 persen), dan investasi terkelola (31 persen).

Survei HSBC yang sama juga mencatat bahwa ke depan terdapat minat yang kuat pada asuransi terkait investasi pada produk unit link (47 persen) dan solusi keuangan terkelola (43 persen).

Minat terhadap produk-produk baru dan lebih kompleks seperti emas digital, multi-asset solutions, dan private market funds secara signifikan lebih tinggi di kalangan Gen Z dan milenial, menunjukkan selera risiko dan adopsi inovasi yang lebih besar.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia