Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Tergelincir, tapi Analis Sebut Masih Tren Bullish

Penulis : Indah Handayani
21 Okt 2025 | 09:57 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas.
ilustrasi harga emas.

JAKARTA, investor.id - Harga emas dunia tergelincir pada perdagangan Selasa (21/10/2025) pagi. Meski demikian, analis menyebut, harga emas masih diselimuti tren bulish di tengah ketidakpastian global dan menjelang rilis data inflasi AS.

Harga emas hari ini terlihat tergelincir 0,41% ke level US$ 4.339,24 per troy ons saat berita ditulis. Sedangkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) harga emas dunia tercatat di level US$ 4.381,6 per troy ons yang dicatat pada Senin (20/10/2025). Secara year to date (ytd), harga emas telah melonjak sebanyak 65,99%.

Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha mengatakan, secara teknikal tren emas masih menunjukkan kecenderungan bullish meski momentum kenaikannya sedikit melambat. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average masih memperlihatkan arah kenaikan yang sehat.

“Jika tekanan beli berlanjut, harga emas berpotensi menguji level US$ 4.400 dalam jangka pendek. Namun, bila terjadi koreksi teknikal, area US$ 4.294 menjadi level kunci yang bisa menahan pelemahan harga emas,” tulis Andy dalam risetnya, Selasa (21/10/2025).

Dari sisi fundamental, Andy mengatakan, pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi fokus pasar. Dalam wawancara dengan Fox Business pada akhir pekan, Trump mengisyaratkan bahwa tarif impor tambahan 100% terhadap produk China tidak akan bersifat permanen. Trump juga menegaskan optimismenya terhadap peluang tercapainya kesepakatan perdagangan dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan yang dijadwalkan akhir Oktober.

Menurut Andy, komentar Trump sempat menekan harga emas pada hari Jumat lalu (17/10/2025), karena pasar menilai meredanya ketegangan perdagangan global dapat mengurangi minat terhadap aset safe haven. Namun, meskipun harga sempat terkoreksi dari puncak historis US$ 4.380 ke sekitar US$ 4.200, logam mulia ini berhasil stabil di awal pekan.

“Hal itu menunjukkan bahwa permintaan investor terhadap aset pelindung risiko masih tinggi,” jelasnya.

Namun, lanjut Andy, perdagangan emas saat ini berada di persimpangan antara faktor fundamental dan ekspektasi kebijakan moneter. Meskipun sentimen risk on sempat menguat karena optimisme dagang, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed tetap menjadi katalis utama yang menjaga minat beli terhadap emas.

Tunggu Data Inflasi

Andy mengatakan, pasar kini menanti rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS bulan September, yang akan dirilis pada Jumat (24/10/2025) mendatang. Data inflasi ini menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed ke depan. Penurunan suku bunga akan mengurangi opportunity cost dalam memegang emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil tetap dan berpotensi menekan Dolar AS.

“Hal ini membuat emas tetap menarik di mata investor global, terutama di tengah gejolak politik dan ekonomi yang masih belum mereda,” tambah Andy.

Menurut CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan kebijakan Oktober hampir mencapai 100%, sementara pasar juga memperkirakan penurunan lanjutan pada Desember.

Di sisi lain, periode blackout The Fed yang berlaku menjelang pertemuan kebijakan membuat pasar kekurangan petunjuk langsung dari pejabat bank sentral. Situasi ini menempatkan fokus utama pada perkembangan isu perdagangan AS–China dan data ekonomi AS sebagai pendorong utama volatilitas emas pekan ini.

“Kondisi pasar emas saat ini dapat digambarkan sebagai fase jeda sehat setelah reli kuat dalam beberapa pekan terakhir. Investor perlu mencermati area kunci US$ 4.294 dan US$ 4.400 untuk menentukan arah selanjutnya,” paparnya

Lebih lanjut Andy menambahkan bahwa kombinasi ekspektasi pemangkasan suku bunga, ketegangan geopolitik, dan pergerakan Dolar AS akan menjadi pendorong utama harga emas dalam jangka pendek. “Namun, trader disarankan untuk tetap disiplin menjaga posisi, mengingat potensi volatilitas tinggi menjelang rilis data inflasi AS dan perkembangan pertemuan dagang antara AS dan China akhir bulan ini,” tutupnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia