INET Mentereng, Target Harga Masih Jauh
Sinergi Inti Andalan Prima (INET) tengah agresif ekspansi dengan dana besar, yang dapat mendongkrak pendapatan dan laba secara signifikan. Langkah besar ini kemudian direspons pelaku pasar. Lantas, bagaimana valuasi saham INET saat ini, apakah wajar?
Berdasarkan konsensus pasar, saham INET saat ini diperdagangkan pada valuasi EV/EBITDA 2026 sekitar 15,1 kali dan EV/EBITDA 2027 sebesar 9,4 kali.
Valuasi tersebut dinilai wajar untuk perusahaan penyedia jasa internet (internet service provider/ISP) dan perusahaan infrastruktur serat optik (FiberCo).
INET memperluas bisnisnya ke segmen FTTH (fiber to the home) untuk konsumen (business to consumer/B2C), jasa pembangunan jaringan FTTH (FTTH contracting), serta IRU kabel laut atau hak penggunaan kapasitas kabel bawah laut.
Pada segmen FTTH contracting, INET akan mendukung pembangunan jaringan FTTH milik PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge dengan target pembangunan 2 juta homepass hingga 2028. Total nilai kontrak diperkirakan mencapai Rp 540 miliar.
Baca Juga:
BMRI, Saham Mewah Harga MurahSecara paralel, INET berencana memulai proyek IRU kabel laut pada April 2026, dengan kapasitas total 20 terabit per detik (Tbps).
Dari jumlah tersebut, 10 Tbps telah dikunci oleh WIFI sebagai pelanggan utama. Sisa kapasitas akan dijual kepada penyedia jasa internet lainnya. Total investasi INET untuk proyek IRU diperkirakan sebesar Rp 250-350 miliar.
“Namun, sumber pertumbuhan terbesar diperkirakan berasal dari segmen B2C FTTH, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam risetnya.
INET menargetkan pembangunan 2 juta homepass di Bali-Lombok dan 800 ribu homepass di Kalimantan Barat, dengan target take-up rate sebesar 60-70%.
Untuk mendukung ekspansi, INET melakukan rights issue sebesar Rp 3,2 triliun dan penerbitan obligasi Rp 1 triliun.
INET juga aktif melakukan pertumbuhan anorganik melalui akuisisi PT Trans Hybrid Communication (THC) dan PT Personel Alih Daya Tbk (PADA).
THC memiliki infrastruktur jaringan backbone di Kalimantan Barat, yang mendukung ekspansi FTTH INET di wilayah tersebut.
Sementara itu, PADA bergerak di bidang jasa alih daya (outsourcing), yang menyediakan tenaga kerja untuk pembangunan jaringan FTTH dan fixed wireless access (FWA) atau akses internet nirkabel tetap milik WIFI.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






