Sabtu, 4 April 2026

INET Mentereng, Target Harga Masih Jauh

Penulis : Jauhari Mahardhika
17 Feb 2026 | 16:01 WIB
BAGIKAN
Saham INET atau Sinergi Inti Andalan Prima diramal masih bisa memberikan cuan besar. Investor Daily/David Gita Roza
Saham INET atau Sinergi Inti Andalan Prima diramal masih bisa memberikan cuan besar. Investor Daily/David Gita Roza

JAKARTA, investor.id – Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) diramal bisa memberikan cuan besar tahun ini. Target harga saham INET masih jauh.

Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam riset berjudul ‘2026 Year of Fire Horse Outlook’ memasukkan INET ke dalam daftar saham pilihan teratas.

Prospek INET didukung oleh pengembangan usaha secara signifikan, antara lain kabel laut Jakarta-Batam-Singapura 20 Tbps dan FTTH Bali-Lombok 2 juta home passes.

Advertisement

INET melalui anak usahanya juga menggencarkan ekspansi di bidang infrastruktur digital. “Kapasitas terserap 50%, ada potensi recurring income baru,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam ulasannya, yang dikutip pada Selasa (17/2/2026).

Kiwoom Sekuritas merekomendasikan buy saham INET. Target harga saham INET dipatok tinggi sebesar Rp 630.

Pada perdagangan terakhir, saham INET ditutup menguat 2,1% ke level Rp 384. Dengan begitu, INET telah melejit 17,7% selama sepekan perdagangan sebelumnya. Namun, secara year to date (ytd), INET melemah 17,6%.

Jika mengacu harga saat ini yang sebesar Rp 384, potensi cuan saham INET terbilang besar mencapai 64%.

Valuasi Saham Wajar? 

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) tengah agresif ekspansi dengan dana besar, yang dapat mendongkrak pendapatan dan laba secara signifikan. Langkah besar ini kemudian direspons pelaku pasar. Lantas, bagaimana valuasi saham INET saat ini, apakah wajar?

Berdasarkan konsensus pasar, saham INET saat ini diperdagangkan pada valuasi EV/EBITDA 2026 sekitar 15,1 kali dan EV/EBITDA 2027 sebesar 9,4 kali.

Valuasi tersebut dinilai wajar untuk perusahaan penyedia jasa internet (internet service provider/ISP) dan perusahaan infrastruktur serat optik (FiberCo).

INET memperluas bisnisnya ke segmen FTTH (fiber to the home) untuk konsumen (business to consumer/B2C), jasa pembangunan jaringan FTTH (FTTH contracting), serta IRU kabel laut atau hak penggunaan kapasitas kabel bawah laut.

Pada segmen FTTH contracting, INET akan mendukung pembangunan jaringan FTTH milik PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge dengan target pembangunan 2 juta homepass hingga 2028. Total nilai kontrak diperkirakan mencapai Rp 540 miliar.

Secara paralel, INET berencana memulai proyek IRU kabel laut pada April 2026, dengan kapasitas total 20 terabit per detik (Tbps).

Dari jumlah tersebut, 10 Tbps telah dikunci oleh WIFI sebagai pelanggan utama. Sisa kapasitas akan dijual kepada penyedia jasa internet lainnya. Total investasi INET untuk proyek IRU diperkirakan sebesar Rp 250-350 miliar.

“Namun, sumber pertumbuhan terbesar diperkirakan berasal dari segmen B2C FTTH, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam risetnya.

INET menargetkan pembangunan 2 juta homepass di Bali-Lombok dan 800 ribu homepass di Kalimantan Barat, dengan target take-up rate sebesar 60-70%.

Untuk mendukung ekspansi, INET melakukan rights issue sebesar Rp 3,2 triliun dan penerbitan obligasi Rp 1 triliun.

INET juga aktif melakukan pertumbuhan anorganik melalui akuisisi PT Trans Hybrid Communication (THC) dan PT Personel Alih Daya Tbk (PADA).

THC memiliki infrastruktur jaringan backbone di Kalimantan Barat, yang mendukung ekspansi FTTH INET di wilayah tersebut.

Sementara itu, PADA bergerak di bidang jasa alih daya (outsourcing), yang menyediakan tenaga kerja untuk pembangunan jaringan FTTH dan fixed wireless access (FWA) atau akses internet nirkabel tetap milik WIFI.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 20 menit yang lalu

Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik

Penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM di tengah dinamika geopolitik global.
International 41 menit yang lalu

WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran

WHO kecam serangan AS & Israel ke fasilitas kesehatan Iran. 4 juta orang mengungsi, risiko wabah penyakit kian mengancam Timur Tengah.
Business 52 menit yang lalu

Green SM Dapat Dukungan Pembiayaan BCA Rp600 M

Fasilitas pembiayaan dari BCA ditujukan memperkuat kesiapan operasional serta menjaga keberlanjutan layanan Green SM di sejumlah kota.
Market 1 jam yang lalu

Laba Mitratel (MTEL) Rp 2,1 Triliun

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 2,11 triliun tahun 2025.
International 1 jam yang lalu

Serangan Udara Rusia Tewaskan 14 Warga Sipil Ukraina

Rusia luncurkan 500 drone ke Ukraina menjelang Paskah, 14 warga sipil tewas. Zelenskyy tawarkan bantuan amankan Selat Hormuz dari Iran.
InveStory 1 jam yang lalu

Tantangan Organisasional Menghadapi Gap Profesionalitas Bisnis

Turnaround Garuda hanya akan berhasil jika perusahaan berhenti sekadar memonetisasi kursi dan mulai mengorkestrasi sistem nilai perusahaan.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia