Sabtu, 4 April 2026

Siap-siap Harga Emas Lanjut Reli ke Titik Ini

Penulis : Natasha Khairunisa
18 Feb 2026 | 09:30 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas batangan. (Foto: ANTARA/IMAGO/Frank Sorge via Reuters/pri)
Ilustrasi emas batangan. (Foto: ANTARA/IMAGO/Frank Sorge via Reuters/pri)

JAKARTA, investor.id - Analis memproyeksi harga emas dunia berpeluang menyentuh level US$ 6.200 pada pertengahan tahun 2026.

“Kami melihat harga emas melanjutkan kenaikannya hingga USD 6.200/troy ons pada pertengahan tahun, didukung oleh permintaan bank sentral dan investor, defisit fiskal yang besar, suku bunga riil AS yang lebih rendah, dan risiko geopolitik,” kata Dominic Schnider, Kepala Komoditas & CIO Forex APAC di UBS Wealth Management, dikutip dari Kitco News, Rabu (18/2/2026).

“Harga logam mulia, meskipun berfluktuasi, naik pada bulan Januari karena ketidakpastian politik, geopolitik, dan ekonomi mendorong permintaan aset aman” tulis Schnider dalam sebuah catatan komoditas.

Sebelumnya, pada 5 Januari 2026 Schnider menulis bahwa pembelian oleh bank sentral global, defisit fiskal yang meningkat, suku bunga AS yang lebih rendah, dan risiko geopolitik yang terus berlanjut akan mendorong harga emas ke level US$ 5.000 per troy ons pada akhir kuartal pertama 2026.

Schnider memperkirakan bahwa keterbatasan pasokan tembaga dan aluminium akan mendukung harga emas dalam jangka menengah, sementara pendorong struktural (misalnya, elektrifikasi) mendukung permintaan logam mulia dalam jangka panjang.

“Komoditas akan memainkan peran yang lebih menonjol dalam portofolio pada tahun 2026, menurut pandangan kami, menawarkan diversifikasi di tengah ketidakseimbangan penawaran-permintaan, risiko geopolitik, dan transisi energi global,” kata Schnider.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa pasokan yang ketat di tengah permintaan emas yang meningkat kemungkinan akan mendukung harga terus menguat di 2026. Maka dari itu, Schnider optimis reli emas akan berlanjut tahun ini.

“Harga emas seharusnya mencatatkan kenaikan lebih lanjut, menurut pandangan kami, didukung oleh pembelian bank sentral, defisit fiskal yang besar, suku bunga riil AS yang lebih rendah, dan risiko geopolitik yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 13 menit yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
Business 33 menit yang lalu

Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik

Penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM di tengah dinamika geopolitik global.
International 54 menit yang lalu

WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran

WHO kecam serangan AS & Israel ke fasilitas kesehatan Iran. 4 juta orang mengungsi, risiko wabah penyakit kian mengancam Timur Tengah.
Business 1 jam yang lalu

Green SM Dapat Dukungan Pembiayaan BCA Rp600 M

Fasilitas pembiayaan dari BCA ditujukan memperkuat kesiapan operasional serta menjaga keberlanjutan layanan Green SM di sejumlah kota.
Market 1 jam yang lalu

Laba Mitratel (MTEL) Rp 2,1 Triliun

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 2,11 triliun tahun 2025.
International 2 jam yang lalu

Serangan Udara Rusia Tewaskan 14 Warga Sipil Ukraina

Rusia luncurkan 500 drone ke Ukraina menjelang Paskah, 14 warga sipil tewas. Zelenskyy tawarkan bantuan amankan Selat Hormuz dari Iran.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia