BMRI Mumpung Murah, Diserok Asing, Target Harga Segini
JAKARTA, investor.id – Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mumpung masih murah harganya. Meski murah, saham BMRI tidak murahan karena memiliki return on equity (ROE) yang baik. Investor asing lagi rajin mengakumulasi saham BMRI.
Berdasarkan data di Stockbit Sekuritas, yang diakses pada Minggu (22/2/2026), rasio PE saham BMRI saat ini (trailing twelve months/TTM) tergolong murah sebesar 8,5 kali.
Baca Juga:
Ada yang Nafsu Serok Saham BBRIPada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (20/2/2026), BMRI ditutup naik 0,9% ke level Rp 5.125. Dalam perdagangan sepekan terakhir, BMRI juga menguat 0,9% dan sebulan meningkat 2,5%. Selama year to date (ytd), BMRI terangkat 0,49%.
Investor asing tampak sedang menyerok saham BMRI selama sepekan terakhir. Nilai transaksi beli bersih (net buy) asing pada saham BMRI mencapai Rp 615,7 miliar atau terbesar dibandingkan saham lainnya.
Pembelian secara agresif terhadap saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) tersebut terjadi di pasar reguler BEI selama periode 18-20 Februari 2026.
Dari segi kinerja, Bank Mandiri (BMRI) telah menunjukkan performa sepanjang 2025 yang melampaui estimasi berkat hasil kuartal IV-2025 yang memecahkan rekor. BMRI mencatatkan laba bersih kuartalan tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp 18,6 triliun pada kuartal IV-2025.
Dengan begitu, total laba bersih BMRI selama 2025 mencapai Rp 56,3 triliun atau tumbuh 1% yoy. “Pencapaian itu lebih tinggi dari estimasi kami maupun konsensus pasar,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya.
Baca Juga:
Saham Ini Senasib dengan BUMIAdapun pertumbuhan kredit BMRI pada 2025 tetap kuat sebesar 13% yoy. Itu terutama ditopang oleh segmen korporasi dan komersial, sehingga mampu mengimbangi penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sebesar 30 basis poin (bps) dan mendorong pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 4%.
Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh kuat 24% yoy, terutama berasal dari deposito berjangka yang menurunkan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) menjadi 89%.
“Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) BMRI tetap stabil sebesar 1,1%,” ungkap Victor.
Target Harga Saham
Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel dalam risetnya memperkirakan laba Bank Mandiri (BMRI) pada 2026 bakal didorong oleh pendapatan non-bunga. Itu terutama dari peningkatan fee berbasis platform digital, seiring rencana monetisasi aplikasi Livin’ secara lebih agresif tahun ini.
Selain itu, opex diperkirakan relatif datar atau bahkan menurun, setelah adanya penyesuaian satu kali (one-off) pada 2025. Secara konservatif, opex BMRI diprediksi hanya naik 3% yoy, sehingga cost to income ratio (CIR) berpotensi turun menjadi 44% pada 2026 dibandingkan 2025 yang mencapai 46%.
“Secara keseluruhan, kami memproyeksikan pertumbuhan laba BMRI sekitar 6% pada 2026 menjadi Rp 58,7 triliun atau 6,3% di atas konsensus yang sebesar Rp 55,2 triliun,” tulis Jovent.
Indo Premier Sekuritas menetapkan BMRI sebagai saham pilihan utama di sektor perbankan. Begitu juga dengan saham BBNI atau Bank Negara Indonesia (BNI).
Indo Premier Sekuritas merekomendasikan buy saham BMRI dengan target harga tinggi Rp 6.400. Valuasi BMRI dinilai menarik, dengan P/B mencapai 1,4 kali dan P/E sebesar 8,1 kali dibandingkan rata-rata 10 tahun yang masing-masing 1,6 kali dan 11,6 kali.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






