Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Perkasa Usai Putusan MA soal Tarif Trump
JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) perkasa pada Senin (23/2/2026) siang. Penguatan itu didorong pelemahan dolar setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global Presiden Donald Trump serta data ekonomi AS yang mengecewakan.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 10.28 WIB di pasar spot exchange, Rupiah hari ini melonjak sebesar 57 poin (0,34%) ke level Rp 16.831 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat ambles 0,3% ke level 97,5.
Sedangkan pada perdagangan Jumat (20/2/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tipis 6 poin di level Rp 16.888. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, penguatan kurs rupiah dipengaruhi keputusan Mahkamah Agung AS yang menganulir kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah tajam setelah data pertumbuhan ekonomi yang jauh di bawah ekspektasi dan keputusan MA yang menganulir tarif Trump,” katanya dikutip dari Antara, Senin (23/2/2026).
Baca Juga:
Menjaga Kestabilan Rupiah di Tahun 2026Mengutip Sputnik, putusan MA AS untuk membatalkan beberapa kebijakan tarif global Presiden Donald Trump memberikan pukulan serius bagi rakyat AS sekaligus merampas pengaruh signifikan Trump, kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat, MA AS dengan hasil pemungutan suara 6-3, memutuskan bahwa Trump tidak berwenang untuk memberlakukan tarif global berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA).
Tarif Trump
Sementara itu, Trump menyebut putusan Mahkamah Agung (MA) AS tersebut ‘sangat mengecewakan’ dan menuduh MA telah dipengaruhi oleh ‘kepentingan asing’.
Trump kemudian menegaskan bahwa seluruh tarif keamanan nasional tetap berlaku, dan bahwa putusan MA tersebut khususnya hanya menyangkut penggunaan tarif IEEPA.
Baca Juga:
Arah Rupiah Pekan Depan“Dampak sebenarnya masih tidak jelas karena Trump masih ngotot, walau paling tidak ini adalah keputusan yang positif buat dunia,” kata Lukman.
Penguatan rupiah juga dipengaruhi capaian angka pertumbuhan ekonomi AS yang hanya 1,4%, jauh di bawah perkiraan 3%. “Mayoritas disebabkan oleh shutdown pemerintah dan daya beli yang memang lemah oleh tarif,” katanya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






