Rupiah Tahan Banting di Tengah Guncangan Tarif Global Trump
JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah (IDR) mengalami penguatan di awal pekan pada Senin, 23 Februari 2026.
Pada perdagangan sore ini, kurs rupiah ditutup menguat 86 poin terhadap dolar AS (USD) setelah sebelumnya sempat menguat 90 poin di level Rp 16.802 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.888.
Baca Juga:
Menjaga Kestabilan Rupiah di Tahun 2026"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.770 - Rp 16.800," ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis pada Senin (23/2/2026).
Ibrahim memaparkan, rupiah menguat di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
"Pasar terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran pada hari Kamis di Jenewa, meningkatkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda," ia menyoroti.
Kurs rupiah juga menguat meski Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif 10% pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya.
Baca Juga:
Rupiah Perkasa Hadapi Pukulan BeruntunTrump kemudian kembali menaikkan tarif menjadi 15%, maksimum yang diizinkan berdasarkan undang-undang tersebut, yang meningkatkan kekhawatiran tentang tindakan balasan dan potensi gangguan pada rantai pasokan global.
"Ketidakpastian mengenai durasi dan cakupan tarif, serta kemungkinan tantangan hukum dan kongres, menambah volatilitas pasar," ungkap Ibrahim. Ia pun mengantisipasi kondisi tersebut dapat mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan.
Rupiah hari ini juga menguat setelah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal keempat 2025 mencatat penurunan dari 4,4% menjadi 1,4% secara YoY, yang disebabkan oleh penutupan pemerintah AS selama 43 hari.
Dari sisi internal, rupiah menguat menyusul rilis Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bahwa APBN membukukan defisit sebesar Rp 54,6 triliun per akhir Januari 2026. Defisit/surplus APBN tersebut setara dengan 0,21% dari produk domestik bruto (PDB), dengan rincian bahwa pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun per Januari 2026.
Realisasi itu juga setara 5,5% dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp 3.153,6 triliun.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






