Sabtu, 4 April 2026

Rupiah Tahan Banting di Tengah Guncangan Tarif Global Trump

Penulis : Natasha Khairunisa
23 Feb 2026 | 15:26 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi mata uang dolar AS dan Rupiah. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Ilustrasi mata uang dolar AS dan Rupiah. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah (IDR) mengalami penguatan di awal pekan pada Senin, 23 Februari 2026.

Pada perdagangan sore ini, kurs rupiah ditutup menguat 86 poin terhadap dolar AS (USD) setelah sebelumnya sempat menguat 90 poin di level Rp 16.802 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.888.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang  Rp 16.770 - Rp 16.800," ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis pada Senin (23/2/2026).

Advertisement

Ibrahim memaparkan, rupiah menguat di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.

"Pasar terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran pada hari Kamis di Jenewa, meningkatkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda," ia menyoroti.

Kurs rupiah juga menguat meski Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengenaan tarif 10% pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya.

Trump kemudian kembali menaikkan tarif menjadi 15%, maksimum yang diizinkan berdasarkan undang-undang tersebut, yang meningkatkan kekhawatiran tentang tindakan balasan dan potensi gangguan pada rantai pasokan global.

"Ketidakpastian mengenai durasi dan cakupan tarif, serta kemungkinan tantangan hukum dan kongres, menambah volatilitas pasar," ungkap Ibrahim. Ia pun mengantisipasi kondisi tersebut dapat mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan.

Rupiah hari ini juga menguat setelah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal keempat 2025 mencatat penurunan dari 4,4% menjadi 1,4% secara YoY, yang disebabkan oleh penutupan pemerintah AS selama 43 hari.

Dari sisi internal, rupiah menguat menyusul rilis Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bahwa APBN membukukan defisit sebesar Rp 54,6 triliun per akhir Januari 2026. Defisit/surplus APBN tersebut setara dengan 0,21% dari produk domestik bruto (PDB), dengan rincian bahwa pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun per Januari 2026.

Realisasi itu juga setara 5,5% dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp 3.153,6 triliun. 

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 27 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 38 menit yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 1 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 1 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 1 jam yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 2 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia