Saham Melambung 1.900%, Calon Pengendali Baru Disorot
JAKARTA, investor.id - Peta pertarungan industri nikel Indonesia kini tidak hanya berlangsung di kawasan tambang Sulawesi dan Maluku. Arus besar berikutnya justru mengalir ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ketika para raksasa global material baterai lithium mulai masuk melalui manuver akuisisi emiten kecil.
Terbaru, PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE), produsen tinta merek Blueprint, mengumumkan penandatanganan conditional shares purchase agreement (CSPA) dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited, calon pengendali baru perseroan.
Dragonmine Mining berencana membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80% saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Aksi korporasi ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang sebelumnya telah disampaikan pada November 2025.
Dragonmine Mining memang belum banyak membuka informasi secara publik. Namun penelusuran mengarah pada kepemilikan oleh Huayou Hongkong Limited, bagian dari grup besar Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd, salah satu pemain strategis global material baterai yang memiliki lima pilar bisnis mencakup seluruh rantai baterai lithium-ion.
Di Indonesia, Huayou semakin agresif mengembangkan ekosistem terintegrasi, termasuk keterlibatannya dalam Proyek Titan bersama PT Antam Tbk (ANTM) dan Indonesia Battery Corporation. Dengan latar belakang tersebut, pasar menilai langkah akuisisi BLUE oleh Dragonmine bukan sekadar diversifikasi bisnis, melainkan pintu masuk menuju integrasi hilirisasi nikel.
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama berpandangan bahwa transformasi BLUE terbuka lebar setelah perubahan pengendali.
"Perubahan pengendali berpotensi memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di periode ketika pengawasan masih minim. Dengan skema backdoor listing, perusahaan berkualitas lebih tinggi memiliki jalur masuk yang lebih cepat,” jelas Ezar kepada media, Senin (23/2/2026).
Harga Saham
Ia mencatat, sekitar 30% dari emiten di BEI saat ini mencatatkan rugi bersih. Di tengah reformasi pasar modal yang mendorong peningkatan porsi saham publik (free float) berdasarkan kapitalisasi pasar, ruang untuk aksi IPO semakin terbatas.
Baca Juga:
Yang Bikin Saham PADI dan MINA Melonjak“Regulasi baru ini memicu kemacetan pada pipeline IPO, sehingga akuisisi menjadi jalur yang lebih efektif,” tambahnya.
Langkah Dragonmine terhadap BLUE mengingatkan pasar kepada aksi CNGR, raksasa prekursor baterai asal China, yang mengakuisisi PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) melalui PT Eco Energi Perkasa. Emiten kemasan plastik itu kemudian berubah nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan menyiapkan rights issue jumbo untuk menyerap aset tambang hingga smelter nikel.
Pola yang sama dipandang berpotensi terulang pada BLUE. Dragonmine yang berada dalam ekosistem Huayou telah memiliki portofolio investasi besar di Morowali dan Pomalaa. Dengan demikian, masuknya aset nikel ke dalam BLUE diperkirakan tinggal menunggu momentum korporasi berikutnya.
Di pasar saham, volatilitas BLUE kian meningkat. Sahamnya mencatat lonjakan 117% year-to-date dan hampir 1.900% dalam setahun terakhir, sebelum terkoreksi mengikuti dinamika pasar saat pengumuman CSPA. Saham BLUE saat ini di kisaran Rp 6.000-an.
Baca Juga:
Tekanan Asing Berlanjut ke Saham BUMIKemudian, bagi kelompok usaha seperti Huayou atau CNGR, mengakuisisi emiten dengan kapitalisasi kecil menawarkan dua keuntungan, yakni akses cepat ke pasar modal Indonesia dan kemampuan menghimpun dana melalui rights issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel.
Skema ini dinilai lebih efisien dibandingkan melakukan IPO dari awal yang membutuhkan waktu panjang, proses penyaringan ketat, serta tingkat ketidakpastian tinggi.
Selain efisiensi, menggunakan entitas publik di BEI memberikan nilai tambah berupa transparansi, kepatuhan regulasi lokal, serta peningkatan profil ESG di mata investor internasional. "Hal ini membuat Indonesia tidak lagi sekadar pemasok bahan mentah, tetapi menjadi bagian integral dari rantai nilai finansial dan industri EV global," pungkasnya.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang
Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data
Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah PutihKetika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel
Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh
Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima
Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.Tag Terpopuler
Terpopuler

