Wall Street Ambruk di Tengah Lonjakan Harga Minyak
NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks saham Wall Street ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (6/3/2026). Tekanan datang dari lonjakan harga minyak dunia di atas US$ 90 per barel serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang mengecewakan pasar.
Dikutip dari CNBC internasional, indeks Dow Jones Industrial Average turun 453,19 poin (0,95%) dan ditutup di level 47.501,55. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,33% ke posisi 6.740,02 dan Nasdaq Composite merosot 1,59% menjadi 22.387,68.
Secara mingguan, kinerja Wall Street juga memburuk. Indeks S&P 500 turun sekitar 2%, Dow Jones anjlok 3%, menjadi penurunan mingguan terburuk dalam hampir satu tahun. Sedangkan Nasdaq terkoreksi 1,2%.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menembus US$90 per barel dan mencatat kenaikan sekitar 35% sepanjang pekan ini. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak perdagangan kontrak berjangka minyak dimulai pada 1983.
Lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak perang antara Amerika Serikat dan Iran terhadap pasokan energi global.
Harga minyak kembali melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan, melalui media sosial Truth Social bahwa perang dengan Iran tidak akan berakhir tanpa ‘penyerahan tanpa syarat’ dari negara tersebut.
Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi bahkan memperingatkan produsen energi di kawasan Teluk berpotensi menerapkan force majeure dalam beberapa hari ke depan. Langkah itu dapat menghentikan produksi dan berpotensi mendorong harga minyak hingga US$150 per barel.
“Konflik di Timur Tengah bisa menjatuhkan perekonomian dunia,” kata dia.
Risiko Minyak US$ 100
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






