Harga Minyak Diprediksi Bertahan US$ 80-90 hingga Akhir Maret
JAKARTA, investor.id – Harga minyak dunia diperkirakan akan terus bertahan di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel selama satu hingga dua pekan ke depan, atau hingga akhir Maret 2026. Lonjakan ini dipicu oleh lumpuhnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang menyebabkan hilangnya jutaan barel pasokan minyak mentah dari pasar global.
Hingga Jumat (6/3/2026) malam, minyak mentah Brent telah menembus level US$ 90 per barel untuk pertama kalinya sejak April 2024. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak ke posisi US$ 87,67 per barel.
“Kami terus memperkirakan harga Brent US$ 80 - US$ 90 per barel setidaknya untuk 1-2 minggu ke depan, sebelum kami melihat harga melambat pada kuartal kedua tahun 2026,” tulis Analis Citi dalam laporannya yang dikutip dari The Wall Street Journal.
Citi memproyeksikan pasar akan kehilangan antara 7 juta hingga 11 juta barel minyak mentah per hari, serta 4 juta hingga 5 juta barel produk olahan setiap harinya akibat penutupan jalur distribusi utama di Timur Tengah tersebut. Namun, para analis optimistis aliran energi akan kembali pulih secara bertahap pada paruh kedua Maret 2026, dengan asumsi operasi militer mereda.
“Kami berasumsi bahwa aliran melalui Hormuz secara bertahap kembali pada paruh kedua bulan Maret, dalam skenario dasar berakhirnya operasi militer,” imbuh Analis Citi.
Di sisi lain, Rohit Rathod dari Vortexa mengungkapkan besarnya skala disrupsi ini, di mana sekitar 16 juta barel minyak mentah per hari saat ini "terperangkap" akibat terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz. Jalur alternatif yang tersedia pun belum mampu beroperasi maksimal untuk menutupi celah pasokan.
Jalur alternatif dapat dilalui lewat Pipa Minyak Timur-Barat milik Arab Saudi menuju pelabuhan Yanbu yang secara teoritis dapat mengangkut 7 juta barel per hari, namun realisasinya saat ini jauh di bawah kapasitas. Demikian pula dengan Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi (kapasitas 1,5 juta barel per hari) yang operasionalnya turut terganggu oleh eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Kondisi ini menempatkan pasar energi global dalam posisi rentan hingga ada kepastian mengenai dibukanya kembali akses pelayaran internasional di Teluk.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





