Minggu, 21 Juni 2026

BI: Rupiah Melemah 1,29% Sejak Perang Meletus

Penulis : Akmalal Hamdhi
17 Mar 2026 | 19:15 WIB
BAGIKAN
Petugas menghitung uang milik nasabah di salah satu agen BRILink di Ternate, Maluku Utara, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Andri Saputra)
Petugas menghitung uang milik nasabah di salah satu agen BRILink di Ternate, Maluku Utara, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Andri Saputra)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak eskalasi konflik antara Iran kontra Amerika Serikat (AS) dan Israel yang terus memanas sejak akhir Februari 2026. Ketegangan geopolitik tersebut memicu guncangan pada stabilitas ekonomi global dan menekan nilai tukar rupiah seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan dunia.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa konflik tersebut telah memperburuk prospek ekonomi global serta memicu pelemahan mata uang negara berkembang (emerging markets). Data BI mencatat, per 16 Maret 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.985 per dolar AS, atau melemah sekitar 1,29% secara point-to-point sejak konflik meletus.

“Perang Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (17/3/2026).

ADVERTISEMENT

Perry menjelaskan, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik ini telah mengganggu rantai pasok perdagangan internasional. Kondisi tersebut tidak hanya menekan pertumbuhan ekonomi global, tetapi juga mendorong kenaikan inflasi dan memicu keluarnya arus modal (capital outflow) dari negara berkembang menuju aset aman (safe haven), terutama di pasar keuangan Amerika Serikat.

Situasi pasar kian kompleks dengan meningkatnya imbal hasil (yield) US Treasury serta penguatan dolar AS. Hal ini didorong oleh membengkaknya defisit fiskal AS untuk pembiayaan perang, yang berpotensi menunda pemangkasan suku bunga acuan The Fed (Fed Funds Rate/FFR).

Merespons tekanan tersebut, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%. Langkah ini diambil sebagai strategi menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi domestik di tengah ketidakpastian eksternal.

“Dampak memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah perlu diantisipasi dan direspons secara tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” tandas Perry.

Ke depan, BI berkomitmen mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan dan memperkuat sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah guna menjaga ketahanan ekonomi nasional dari dampak lanjutan konflik di Timur Tengah.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 31 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 8 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia