BI: Rupiah Melemah 1,29% Sejak Perang Meletus
JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak eskalasi konflik antara Iran kontra Amerika Serikat (AS) dan Israel yang terus memanas sejak akhir Februari 2026. Ketegangan geopolitik tersebut memicu guncangan pada stabilitas ekonomi global dan menekan nilai tukar rupiah seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan dunia.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa konflik tersebut telah memperburuk prospek ekonomi global serta memicu pelemahan mata uang negara berkembang (emerging markets). Data BI mencatat, per 16 Maret 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.985 per dolar AS, atau melemah sekitar 1,29% secara point-to-point sejak konflik meletus.
“Perang Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (17/3/2026).
Perry menjelaskan, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik ini telah mengganggu rantai pasok perdagangan internasional. Kondisi tersebut tidak hanya menekan pertumbuhan ekonomi global, tetapi juga mendorong kenaikan inflasi dan memicu keluarnya arus modal (capital outflow) dari negara berkembang menuju aset aman (safe haven), terutama di pasar keuangan Amerika Serikat.
Situasi pasar kian kompleks dengan meningkatnya imbal hasil (yield) US Treasury serta penguatan dolar AS. Hal ini didorong oleh membengkaknya defisit fiskal AS untuk pembiayaan perang, yang berpotensi menunda pemangkasan suku bunga acuan The Fed (Fed Funds Rate/FFR).
Merespons tekanan tersebut, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%. Langkah ini diambil sebagai strategi menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi domestik di tengah ketidakpastian eksternal.
“Dampak memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah perlu diantisipasi dan direspons secara tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” tandas Perry.
Ke depan, BI berkomitmen mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan dan memperkuat sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah guna menjaga ketahanan ekonomi nasional dari dampak lanjutan konflik di Timur Tengah.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






