Jumat, 15 Mei 2026

Batu Bara Jadi Andalan Gara-gara Krisis Distribusi LNG

Penulis : Natasha Khairunisa
18 Mar 2026 | 06:30 WIB
BAGIKAN
Kapal-kapal pengangkut batu bara melintasi Sungai Mahakam, Samarinda. (Foto: Antara/ M Risyal Hidayat)
Kapal-kapal pengangkut batu bara melintasi Sungai Mahakam, Samarinda. (Foto: Antara/ M Risyal Hidayat)

JAKARTA, investor.id - Sejumlah perusahaan utilitas di Asia meningkatkan pembangkit listrik tenaga batu bara dalam upaya menjaga pasokan energi, menyusul krisis pengiriman gas alam cair (LNG) imbas pemblokiran Selat Hormuz.

Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (18/3/2026), harga LNG spot di Asia telah naik berlipat ganda ke level tertinggi tiga tahun imbas guncangan pasokan besar kedua dalam empat tahun, karena pengiriman melalui Selat Hormuz hampir berhenti dan eksportir global nomor 2, Qatar, telah menghentikan pengiriman.

Di Asia Selatan, Bangladesh mulai meningkatkan pembangkit listrik tenaga batu bara dan impor listrik tenaga batu bara, menurut data harian pemerintah negara itu. Pakistan juga meningkatkan pembangkit listrik yang dihasilkan dari sumber batu bara domestik setelah penambahan tenaga surya.

ADVERTISEMENT

“Dengan pengurangan pembangkitan LNG, pembangkit listrik yang menggunakan batu bara yang ditambang secara lokal akan mampu menghasilkan lebih banyak listrik selama jam-jam di luar jam sibuk,” kata Menteri Energi Pakistan, Awais Leghari.

Kemudian di Asia Tenggara, Filipina meningkatkan produksi listrik tenaga batu bara dan memangkas produksi listrik tenaga LNG. Adapun Vietnam pekan lalu mengatakan sedang menegosiasikan pasokan batu bara dan Thailand meningkatkan produksi dari pembangkit listrik tenaga batu bara terbesarnya untuk menghemat LNG.

Di Asia Selatan, Korea Selatan mulai mempertimbangkan untuk menghentikan batasan produksi listrik tenaga batu bara dan meningkatkan produksi listrik tenaga nuklir, sementara perusahaan utilitas utama Jepang, JERA, pekan lalu mengatakan akan mempertahankan tingkat pemanfaatan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah diperkirakan akan memicu penurunan permintaan LNG di seluruh Asia, menurut proyeksi para analis dan pejabat industri.

“Konflik tersebut akan secara signifikan mengurangi pertumbuhan permintaan LNG Asia pada tahun 2026,” kata Lucas Schmitt, seorang analis di Wood Mackenzie, yang memangkas perkiraan tahunannya untuk impor LNG Asia menjadi sekitar 5 juta ton (5,5 ton) dari 12,4 juta ton, dengan asumsi gangguan pasokan dari Timur Tengah selama dua bulan.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia