Wall Street Tertekan Lonjakan Minyak dan Saham Teknologi
Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal positif bahwa konflik dengan Iran berpotensi mereda. Ia menyebut AS tengah melakukan pembicaraan serius dengan pihak yang lebih moderat. Namun, Trump juga memperingatkan bahwa jika kesepakatan damai tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka, AS siap menghancurkan fasilitas energi utama Iran.
Sebelumnya, Trump menyebut Iran telah menyetujui sebagian besar rencana damai yang diajukan AS, termasuk membuka jalur bagi kapal tanker minyak.
Head of Equities Aptus Capital Advisors David Wagner menilai, pasar kini menunjukkan pola pergerakan yang tidak biasa. Investor cenderung melakukan aksi jual menjelang akhir pekan untuk mengantisipasi risiko, lalu kembali masuk pasar di awal pekan.
“Pasar tampak bersiap menghadapi potensi berita buruk di akhir pekan, sehingga terjadi aksi lindung nilai. Di awal pekan, investor kembali mengambil risiko,” ujarnya.
Dalam 90 hari perdagangan terakhir, kinerja pasar pada Kamis–Jumat tertinggal sekitar 7% dibandingkan periode Senin–Rabu, terutama sejak konflik pecah pada akhir Februari. Wall Street menutup pekan lalu dengan kinerja negatif. Indeks Dow Jones, Nasdaq, dan S&P 500 mencatat penurunan lima pekan berturut-turut, dengan sebagian indeks sudah masuk zona koreksi.
Pelaku pasar khawatir lonjakan harga energi akan menekan pertumbuhan ekonomi global dalam waktu dekat. Sebagai catatan, pasar saham AS akan libur pada Jumat (2/4/2026) dalam rangka Good Friday. Meski demikian, data ketenagakerjaan AS untuk Maret tetap dijadwalkan rilis pada hari tersebut.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






