Minggu, 21 Juni 2026

Harga Minyak Berbalik Arah, Dipicu Sinyal Akhir Perang Iran

Penulis : Indah Handayani
1 Apr 2026 | 04:36 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi minyak bumi.
Ilustrasi minyak bumi.

HOUSTON, investor.idHarga minyak dunia berbalik turun pada perdagangan Selasa (31/3/2026), setelah muncul laporan bahwa Iran membuka peluang untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS), meski dengan sejumlah syarat.

Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman Juni ditutup turun US$ 3,42 ke level US$ 103,97 per barel. Pelemahan ini dipicu laporan media, termasuk Bloomberg, yang menyebut Presiden Iran Masoud Pezeshkian siap mengakhiri perang jika ada jaminan tertentu dari pihak internasional.

Sementara itu, harga minyak Brent untuk Mei, yang berakhir pada hari yang sama, justru melonjak US$ 5,57 (4,94%) ke US$ 118,35 per barel. Adapun minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun US$ 1,50 (1,46%) ke US$ 101,38 per barel.

ADVERTISEMENT

Peralihan fokus investor dari kontrak Mei ke Juni menyebabkan likuiditas kontrak lama menurun tajam. Volume transaksi kontrak Mei tercatat hanya 18.652 lot, sekitar 30 kali lebih rendah dibandingkan kontrak Juni yang lebih aktif diperdagangkan.

Sepanjang Maret, harga minyak mencatat lonjakan luar biasa. Data LSEG menunjukkan kontrak Brent bulan berjalan melonjak hingga 64%, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1988. Sementara itu, WTI naik sekitar 52%, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Mei 2020.

Analis Again Capital John Kilduff mengatakan, pernyataan dari Iran langsung menekan harga minyak. Jika konflik benar-benar mereda, Selat Hormuz berpotensi kembali dibuka, sehingga pasokan global meningkat dan premi risiko pada harga minyak akan berkurang.

“Jika permusuhan berhenti, pasokan akan kembali ke pasar dan mengikis lonjakan harga yang selama ini didorong faktor risiko,” ujarnya.

Selama empat pekan terakhir, harga minyak terus merangkak naik seiring eskalasi konflik Iran yang memicu gangguan besar pada infrastruktur energi di kawasan Teluk. Gangguan tersebut menyebabkan salah satu disrupsi pasokan minyak dan gas terburuk dalam sejarah.

Survei Reuters juga menunjukkan produksi minyak OPEC anjlok 7,3 juta barel per hari pada Maret menjadi 21,57 juta barel per hari, level terendah sejak puncak pandemi Covid-19 pada Juni 2020. Penurunan ini dipicu pembatasan ekspor yang dipaksakan akibat konflik.

Meski demikian, pergerakan harga minyak sepanjang bulan sangat fluktuatif. Setiap sinyal deeskalasi dari Presiden AS Donald Trump kerap menekan harga, namun kembali naik akibat ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Faktor Pergerakan Pasar Minyak

Analis Gelber and Associates menilai, dengan harga minyak yang sudah menembus tiga digit, pergerakan pasar kini lebih dipengaruhi ekspektasi intervensi dan waktu pemulihan pasokan, bukan lagi gangguan baru.

Di sisi lain, Wakil Presiden Rystad Energy Lin Ye memperingatkan pasar semakin rentan terhadap krisis pasokan jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama. “Momentum kenaikan harga minyak berpotensi terus menguat seiring menipisnya cadangan penyangga pasar,” ujarnya.

Perdagangan pada Selasa juga berlangsung volatil, dengan harga minyak Brent sempat bergerak dari naik 5,7% hingga turun 1,3% dalam satu sesi.

Ketegangan geopolitik pun belum mereda sepenuhnya. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi penentu, dan konflik bisa meningkat jika Iran tidak segera mencapai kesepakatan.

Bahkan, Korps Garda Revolusi Iran mengancam akan menargetkan perusahaan-perusahaan AS di kawasan, termasuk Microsoft, Google, Apple, Intel, IBM, Tesla, hingga Boeing.

Menanggapi hal tersebut, Gedung Putih menegaskan militer AS siap menghadapi potensi serangan.

Di lapangan, serangan terhadap kapal tanker juga terjadi. Kuwait Petroleum Corp melaporkan kapal tanker Al Salmi yang membawa hingga 2 juta barel minyak diserang di pelabuhan Dubai. Otoritas setempat turut memperingatkan potensi risiko tumpahan minyak di kawasan tersebut.

Meski ada sinyal diplomasi, ketidakpastian masih tinggi. Analis SS WealthStreet, Sugandha Sachdeva, menilai bahkan jika konflik mereda, pemulihan infrastruktur energi akan memakan waktu, sehingga pasokan tetap ketat dalam jangka pendek.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 11 menit yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 39 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 7 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 7 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia