JPMorgan Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$ 150
MOSKOW, investor.id – Raksasa perbankan investasi dunia JPMorgan memberikan peringatan keras terkait masa depan stabilitas energi global. Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman memroyeksikan harga minyak mentah dunia bisa melonjak hingga ke level US$ 150 per barel jika penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga satu bulan ke depan.
"Skenario di mana selat tersebut tetap tertutup selama satu bulan tambahan akan mendorong harga minyak menuju US$ 150 per barel. Hal ini juga akan memicu pembatasan pasokan energi bagi konsumen industri," ujar Kasman sebagaimana dikutip Sputnik, Selasa (31/3/2026).
Kenaikan harga ini merupakan imbas langsung dari ketegangan geopolitik yang meletus sejak 28 Februari 2026, saat Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai melancarkan serangan udara ke berbagai target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan dan jatuhnya korban sipil.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di Timur Tengah. Eskalasi ini telah mengubah kawasan tersebut menjadi zona perang aktif yang sangat berisiko bagi jalur perdagangan internasional.
Jalur Energi Dunia Terhenti Total
Akibat konflik tersebut, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz praktis terhenti total. Padahal, selat ini merupakan jalur paling krusial di dunia untuk pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Lumpuhnya jalur "nadi" energi ini telah memicu efek domino berupa lonjakan harga bahan bakar di hampir seluruh negara di dunia. Jika prediksi JPMorgan menjadi kenyataan, krisis energi global dikhawatirkan akan memicu inflasi tinggi yang dapat melumpuhkan sektor industri dan transportasi di berbagai belahan dunia.
Selat Hormuz adalah jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geopolitik dan ekonomi, selat ini dianggap sebagai titik sumbat (chokepoint) energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak bumi dunia melewati jalur ini setiap harinya.
Keunikan Selat Hormuz terletak pada posisinya; hampir seluruh ekspor minyak dari produsen raksasa seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar harus melewati jalur sempit ini sebelum mencapai konsumen di Asia, Eropa, dan Amerika. Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute utama bagi pasokan LNG dari Qatar.
Ketegangan yang memuncak sejak akhir Februari 2026 ini bukan hanya sekadar konflik militer regional, melainkan ancaman langsung terhadap ketahanan energi global.
Penutupan selat ini, baik karena blokade militer maupun risiko keamanan bagi kapal tanker, secara otomatis akan memotong pasokan global secara drastis, yang dalam sejarahnya selalu berujung pada lonjakan harga minyak secara ekstrem dan krisis ekonomi dunia.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






