Emas Melambung 1%, Redanya Harga Minyak Redam Kekhawatiran Inflasi
LONDON, investor.id – Harga emas dunia melesat lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (14/4/2026), pulih dari titik terendahnya dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh munculnya harapan resolusi atas konflik di Iran yang mulai menekan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan meredakan kekhawatiran inflasi seiring melandainya harga minyak.
Di pasar spot, harga emas naik 1,1% menjadi US$ 4.788,76 per ons pada pukul 09.21 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni meningkat 1% ke level US$ 4.812,80 menurut pantauan Reuters, Selasa.
Sebelumnya, logam mulia ini sempat merosot ke level terendah setelah militer AS bersiap memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah tersebut sempat memicu kemarahan Teheran dan mengancam gencatan senjata dua minggu yang masih rapuh.
Diplomasi di Islamabad dan Pelemahan Dolar
Fokus pasar saat ini tertuju pada rencana kembalinya tim negosiasi dari AS dan Iran ke Islamabad, Pakistan, akhir pekan ini. Langkah diplomasi ini muncul hanya beberapa hari setelah pembicaraan tingkat tinggi antara kedua negara berakhir tanpa kesepakatan nyata.
"Fokus utama tetap pada perkembangan di Timur Tengah dan peluang resolusi. Menurut pandangan saya, de-eskalasi pada akhirnya dapat mendukung logam mulia, terutama jika hal itu menekan nilai dolar," ujar kepala strategi komoditas di Saxo Bank Ole Hansen.
Pelemahan dolar AS ke level terendahnya dalam lebih dari sebulan membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah dan menarik bagi para pemegang mata uang lainnya.
Korelasi dengan Harga Minyak dan Inflasi
Harga minyak mentah terpantau turun di perdagangan Asia setelah kekhawatiran gangguan pasokan terobati oleh sinyal perdamaian. Sejak konflik di Timur Tengah pecah, harga minyak telah melonjak sekitar 40%, yang memicu kekhawatiran inflasi global.
Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, daya tarik logam tanpa bunga ini biasanya memudar dalam lingkungan suku bunga tinggi. Saat ini, para pelaku pasar melihat peluang sebesar 31% untuk pemangkasan suku bunga AS sebesar 25 basis poin (bps) tahun ini, naik dari 27% sehari sebelumnya.
"Dalam jangka pendek, emas masih bergerak dalam rentang terbatas tanpa sinyal terobosan yang jelas. Namun, semakin lama konsolidasi ini bertahan, kemungkinan besar pergerakan selanjutnya akan cenderung mengarah ke atas," tambah Hansen.
Selain emas, perak spot juga melonjak 3,2% ke level US$ 77,98 per ons, platinum naik 0,7% menjadi US$ 2.084,90 dan paladium menguat 0,6% ke posisi US$ 1.583,82.
Secara historis, emas selalu menjadi primadona bagi investor saat kondisi dunia dilanda ketidakpastian, baik karena perang maupun krisis ekonomi. Dalam konteks ketegangan di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz, emas berfungsi sebagai jangkar nilai ketika mata uang fiat dan pasar saham mengalami volatilitas tinggi.
Kenaikan harga emas yang menembus level US$ 4.700 mencerminkan betapa besarnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Meski sempat tertekan oleh kebijakan suku bunga ketat dari bank sentral dunia untuk memerangi inflasi, emas tetap mempertahankan posisinya sebagai aset safe haven.
Dinamika ini menunjukkan bahwa selama solusi diplomatik antara kekuatan besar seperti AS dan Iran belum mencapai kesepakatan permanen, emas akan terus menjadi indikator utama kecemasan investor global terhadap risiko geopolitik yang dapat meledak sewaktu-waktu.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






