Kamis, 14 Mei 2026

Rahasia BBRI, BMRI, BBNI, hingga BBTN

Penulis : Jauhari Mahardhika
10 Mei 2026 | 14:00 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi bank-bank Himbara/BUMN. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi bank-bank Himbara/BUMN. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id – Kinerja laba Bank Himbara (himpunan bank milik negara) seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) lebih kencang dibandingkan bank swasta pada kuartal I-2026. Apa rahasianya?

Tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia mengungkapkan bahwa rahasia Bank Himbara mengungguli bank swasta, terutama karena laju ekspansi kredit Bank Himbara jauh lebih agresif pada kuartal I-2026.

“Fokus pertumbuhan terbesar masih datang dari segmen korporasi, kredit investasi, UMKM, KUR, hingga berbagai pembiayaan yang terkait program pemerintah,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam ulasannya, yang dikutip pada Minggu (10/5/2026).

ADVERTISEMENT

Data OJK per Maret 2026 menunjukkan kredit perbankan nasional tumbuh 9,49% yoy menjadi Rp 8.659 triliun, namun bank BUMN/Himbara mampu tumbuh lebih tinggi hingga 13,6% yoy.

“Kredit investasi melonjak 20,85% yoy dan kredit korporasi naik 14,8% yoy – dua area yang memang menjadi kekuatan utama Himbara selama ini,” sebut Kiwoom Sekuritas.

Secara bank individual, BMRI mencatat laba Rp 15,4 triliun atau naik 16,6% yoy dengan pertumbuhan kredit 17,4% yoy menjadi Rp 1.530 triliun.

BBRI membukukan laba Rp 15,5 triliun atau meningkat 13,7% yoy, dengan kredit tumbuh 13,68% yoy menjadi Rp 1.562 triliun. Sedangkan beban bunga justru turun 9,3%.

Kemudian, BBNI mencetak pertumbuhan kredit paling agresif di antara big banks dengan kenaikan 20,1% yoy dan laba Rp 5,6 triliun. Lalu, BBTN membukukan laba Rp 1,1 triliun atau naik 22,6% yoy.

“Jadi, pendorong utama bukan semata volume kredit, tetapi juga kombinasi pertumbuhan kredit, perbaikan CASA (dana murah), penurunan cost of fund, serta kualitas aset yang masih cukup terjaga,” jelas Kiwoom Sekuritas.

Di sisi lain, pertumbuhan bank swasta relatif lebih moderat karena strategi ekspansi cenderung lebih hati-hati. Misalnya, BBCA masih menjadi bank swasta dengan laba terbesar mencapai Rp 14,7 triliun. Namun, pertumbuhannya hanya sekitar 3,8% yoy, dengan pertumbuhan kredit 5,6% yoy menjadi Rp 994 triliun.

“Ini menunjukkan gap pertumbuhan laba Himbara versus bank swasta yang lebih banyak dipengaruhi perbedaan appetite kredit serta posisi Himbara yang lebih dominan di proyek pemerintah, pembiayaan korporasi, dan sektor prioritas nasional,” ungkap Kiwoom Sekuritas.

Mengenai penempatan dana SAL Rp 200 triliun, efeknya terlihat cukup membantu dari sisi likuiditas dan efisiensi biaya dana, walaupun bukan satu-satunya faktor yang mengangkat laba BBRI, BMRI, BBNI, dan BBTN.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menempatkan dana tersebut untuk menjaga likuiditas perbankan, menekan cost of fund, dan membuka ruang ekspansi kredit lebih besar, bahkan program ini diperpanjang lagi selama 6 bulan.

Dengan kondisi dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan yang tumbuh 13,5% yoy menjadi Rp 10.231 triliun dan giro naik 21,37% yoy, Himbara mendapat keuntungan dari struktur pendanaan yang lebih murah.

Namun, kenaikan laba tetap lebih banyak ditentukan oleh kualitas kredit, pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII), efisiensi pencadangan, dan kemampuan menjaga NPL.

OJK mencatat NPL gross industri turun ke 2,14%, LaR turun ke 8,94%, ROA naik ke 2,47%, sementara CAR tetap sangat kuat sebesar 25,09%. Artinya backdrop industri perbankan cukup sehat dan Himbara menjadi pihak yang paling optimal memanfaatkan momentum pertumbuhan kredit saat ini.

Valuasi Paling Murah 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 11 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 29 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 59 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia