Ahli Ungkap Tren Harga Emas Sesungguhnya
JAKARTA, investor.id - Traders Union pada Selasa (12/5/2026) kemarin menaksir selama lima hari perdagangan berikutnya (termasuk Rabu, 13 Mei ini), harga emas diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam kisaran US$ 4.690–4.845, mencerminkan rentang variabilitas tipikal relatif terhadap level saat ini.
Probabilitas pergerakan naik dinilai sangat tinggi (lebih dari 80%), dengan penurunan dianggap tidak mungkin kecuali momentum penurunan menguat.
Skenario utama mengantisipasi konsolidasi antara support dan resistance jangka pendek, karena pasar menguji kontrol di dekat level tertinggi baru-baru ini.
Penembusan berkelanjutan di atas zona US$ 4.745-4.750 kemungkinan akan menargetkan US$ 4.800–4.845, sementara penembusan di bawah US$ 4.693 dapat memicu stop loss dan mendorong pengujian ulang menuju US$ 4.690–4.680, meskipun kerugian yang lebih dalam tampaknya kurang mungkin terjadi.
Anton Kharitonov, pakar di Traders Union, mencatat bahwa tren emas secara keseluruhan tetap tangguh di atas rata-rata pergerakan utama meskipun terjadi pelemahan harga baru-baru ini.
Ia melihat lonjakan ekspor emas AS yang didorong oleh regulasi dan permintaan bank sentral yang stabil sebagai hal positif untuk prospek jangka panjang. Namun, indikator teknis menunjukkan tekanan jual jangka pendek dan potensi kelelahan pembeli.
"Skenario dasar tetap konsolidasi harga — jika US$ 4.693 gagal bertahan, saya memperkirakan koreksi yang lebih dalam sebelum pergerakan naik kembali," paparnya dikutip Rabu (13/5/2026).
Sementara itu, Trading Econimics menyebutkan harga emas turun di bawah US$ 4.700 per ons pada hari Rabu siang waktu Indonesia, menghadapi tekanan penurunan setelah angka inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve.
Baca Juga:
Harga Emas Bisa Meledak ke US$ 17.250Inflasi konsumen AS meningkat menjadi 3,8% pada bulan April, di atas perkiraan pasar sebesar 3,7% dan merupakan angka tertinggi sejak Mei 2023, karena meningkatnya biaya energi yang terkait dengan konflik Timur Tengah mendorong harga lebih tinggi.
"Dalam berita lain, India telah meningkatkan tarif impor emas dan perak dalam upaya untuk mengekang pembelian logam mulia dan mendukung mata uangnya. Sementara itu, harga minyak melonjak selama tiga sesi terakhir karena upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk menyelesaikan perang AS-Iran terus terhenti, sehingga kekhawatiran tentang inflasi dan pasar energi tetap menjadi fokus utama," sebut ulasan Trading Econimics.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK
Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Tag Terpopuler
Terpopuler






