Minggu, 21 Juni 2026

Harga Minyak Brent Berbalik Naik, Ragukan Perdamaian AS dan Iran

Penulis : Indah Handayani
19 Jun 2026 | 05:56 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi harga minyak 
Sumber; AP Photo/Edgar Frias
Ilustrasi harga minyak Sumber; AP Photo/Edgar Frias

HOUSTON, investor.idHarga minyak Brent ditutup menguat pada perdagangan Kamis (19/6/2026) setelah pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance memicu kekhawatiran baru terkait keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik 30 sen (0,38%) menjadi US$ 79,85 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 19 sen (0,25%) ke level US$ 76,60 per barel.

Sebelum pernyataan Vance, harga Brent sempat menyentuh level terendah sejak 27 Februari 2026, atau hari perdagangan terakhir sebelum serangan awal AS dan Israel terhadap Iran. Adapun WTI sempat berada di level terendah sejak 4 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

Vance memperingatkan Israel agar tidak melancarkan serangan lanjutan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Pernyataan tersebut memunculkan keraguan pasar terhadap daya tahan kesepakatan damai yang baru saja dicapai antara Washington dan Teheran.

“Pernyataan wakil presiden tampaknya membuat pasar kembali waspada. Gangguan sekecil apa pun saat ini akan langsung tercermin dalam pergerakan harga minyak,” ujar Partner Again Capital John Kilduff.

Pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada kondisi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum perang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Menurut Kilduff, pasar saat ini sudah memperhitungkan skenario pemulihan penuh arus minyak melalui Selat Hormuz.

“Pemulihan penuh aliran minyak melalui selat tersebut sudah tercermin dalam harga. Jika realisasinya di bawah ekspektasi, pasar akan menghadapi masalah,” katanya.

Berdasarkan nota kesepahaman antara AS dan Iran, kedua negara sepakat menjalani masa negosiasi selama 60 hari. Dalam periode tersebut, Iran akan mengizinkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tanpa hambatan dan menargetkan pemulihan kapasitas penuh jalur tersebut dalam waktu 30 hari.

Kesepakatan itu juga mengikat sekutu kedua negara di Timur Tengah, termasuk terkait konflik di Lebanon yang melibatkan Israel dan Hizbollah.

Isu Krusial Ditunda

Meski demikian, sejumlah isu krusial seperti program nuklir Iran masih ditunda pembahasannya. Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana pembiayaan senilai US$ 300 miliar untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran.

Sejumlah analis memperkirakan arus minyak melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap. Namun, harga minyak diperkirakan tidak akan langsung kembali ke level sebelum konflik karena permintaan energi mulai pulih dan persediaan global perlu diisi kembali.

Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk akan kembali normal pada akhir Juli, sementara produksi minyak mentah diproyeksikan pulih sepenuhnya pada Oktober mendatang.

Di sisi lain, BNP Paribas menilai harga Brent sulit kembali ke level sebelum perang dan memperkirakan US$ 75 per barel akan menjadi batas bawah yang kuat dalam waktu dekat. Sebelum konflik pecah, harga Brent bergerak di kisaran US$ 60-70 per barel pada dua bulan pertama tahun ini.

Sementara itu, prospek permintaan dari China juga menjadi perhatian pasar. Laporan unit riset PetroChina memperkirakan konsumsi minyak China pada 2026 mencapai 753 juta ton, turun 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya seiring percepatan transisi energi dan tingginya harga minyak.

Di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, serangan drone Ukraina kembali menghantam kilang minyak di ibu kota Rusia untuk kedua kalinya dalam sepekan, menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 5 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 5 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 5 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 6 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 6 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 6 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia