Harga Bitcoin (BTC) Anjlok, Level US$ 60.000 Kembali Mengintai
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor lima tahun juga masih bertahan di level tinggi sekitar 4,21%, sementara dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi tersebut biasanya kurang menguntungkan bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti Bitcoin maupun emas. Harga emas sendiri tercatat turun lebih dari 3% pada periode yang sama.
Sejumlah pengamat melihat arus dana investor kini lebih banyak mengalir ke sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dibandingkan aset kripto.
Optimisme terhadap industri AI meningkat setelah Presiden Trump mengumumkan kerja sama antara Apple dan Intel dalam pengembangan chip di AS. Saham Intel melonjak lebih dari 10%, sementara saham perusahaan semikonduktor lain seperti Micron dan SK Hynix juga mencatat kenaikan signifikan.
Fenomena tersebut memperkuat narasi bahwa sektor AI saat ini menjadi pusat perhatian investor global, terutama setelah muncul berbagai investasi besar dan rencana penawaran saham perdana (IPO) baru di sektor tersebut.
Pendukung Bitcoin sekaligus pengacara komersial Joe Carlasare bahkan menilai sentimen pasar kripto saat ini lebih buruk dibandingkan periode runtuhnya bursa FTX pada 2022.
Menurut dia, narasi yang sebelumnya mendorong investor membeli Bitcoin mulai kehilangan daya tarik, sementara sektor AI menawarkan peluang pertumbuhan yang dinilai lebih menjanjikan.
Meski demikian, posisi Bitcoin di industri keuangan tradisional saat ini jauh lebih kuat dibandingkan siklus halving sebelumnya. Dana kelolaan ETF Bitcoin spot yang tercatat di AS telah melampaui US$ 102 miliar, sementara sejumlah institusi keuangan besar seperti Morgan Stanley, Bank of America, dan Goldman Sachs telah menawarkan produk investasi Bitcoin kepada nasabahnya.
Karena itu, analis menilai pengujian kembali level US$ 60.000 masih mungkin terjadi dalam jangka pendek. Namun, arah pergerakan Bitcoin selanjutnya akan sangat bergantung pada seberapa kuat permintaan dari investor institusi mampu menahan tekanan yang muncul dari pergeseran minat pasar ke sektor AI.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






